Pembelajaran Berkelas Hasilkan Siswa Berkualitas

5 Februari 2017 / 12:17 WIB Dibaca sebanyak: 772 kali 1 Komentar

Raih Prestasi-Neni Rohaeni (kiri) guru Bahasa Inggris SMPN 1 Cilimus foto bersama Fathiyah Hasna (tengah) juara story telling contest bahasa Inggris yang diadakan kampus Unswagati Cirebon, jum’at, (03/02/2017).

KUNINGAN BB.Com– USAID PRIORITAS terus mendorong kegiatan proses belajar mengajar di kelas tidak monoton, jangan sampai siswa menjadi bosan dalam belajar. Agar tidak terjadi hal seperti itu guru harus terus memotivasi dirinya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dalam memfasilitasi anak dalam berlajar belajar.

Salah satu program hasil pelatihan pembelajaran aktif guru-guru SMP sudah menampakkan hasil, salah satunya SMPN 1 Cilimus meraih prestasi sejak bermitra dengan USAID PRIORITAS.

Prestasi terakhir yang diraih salah satu siswa SMPN 1 Cilimus adalah juara story telling contest yang diadakan kampus Unswagati Cirebon se wilayah tiga Cirebon. Prestasi bergengsi itu diraih Fathiyah Hasna kelas IX A.

”Alhamdulillah, setelah dibimbing Ibu Neni Rohaeni, pembelajaran Bahasa Inggris jadi mengasyikkan dan menyenangkan, pembelajaran jadi asyik pokoknya” ungkap Fathi, panggilan akrabnya, setelah menerima piala di kampus Unswagati, jum’at (03/02/2017).

Kegiatan pelatihan USAID PRIORITAS yang sudah lama berlangsung di Kab. Kuningan sudah menampakkan hasilnya. Karena ketika pembelajaran berkualitas, tentu prestasi siswa akan mengikuti.

”Kami guru-guru di SMPN 1 Cilimus percaya bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses, ketika proses pembelajaran semakin berkualitas dan baik, maka prestasi siswa akan semakin meningkat, seperti juara story telling di kampus Unswagati Cirebon baru-baru ini” ujar Neni Rohaeni, guru Bahasa Inggris.

Momon Sukiman, Kepala SMPN 1 Cilimus, mengaku merasa terbantu dengan adanya pelatihan model USAID PRIORITAS karena  banyak membuat guru menjadi terbuka pola pikirnya, lebih aktif dalam memaksimalkan lingkungan sebagai sumber belajar,

“Setelah dilatih USAID PRIORITAS, guru mampu membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) sendiri untuk siswa, walaupun sederhana. Selain itu juga diajarkan untuk memahami gender dalam melayani perbedaan individu peserta didik, sehingga tidak akan lagi terjadi ketidakadilan gender, hasilnya adalah prestasi akademik dan non akademik siswa semakin meningkat” ungkap Momon. [ASB]


 

Bagikan
Share

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *