BANDUNG | BBCOM – Dalam rangka mengenang momentum bersejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, siswa-siswi SMA Plus Muttahari menggelar kegiatan Simulasi Konferensi Asia Afrika pada 21 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula KH Jalaludin Rakhmat, Kampus SMA Plus Muttahari, Kota Bandung.
Mengusung tema “Menggemakan Kembali Spirit Bandung, Merajut Solidaritas Dunia”, acara ini menjadi wadah edukatif sekaligus reflektif bagi para pelajar untuk memahami kembali nilai-nilai perjuangan, solidaritas, dan kemerdekaan bangsa-bangsa yang digaungkan dalam KAA 1955.
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMA Plus Muttahari yang dikenal dengan motto “Sekolah Para Juara”. Selain itu, acara juga menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya Azizi, alumni SMA Plus Muttahari, yang memberikan pandangan mengenai pentingnya peran generasi muda dalam menjaga nilai sejarah bangsa.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari berbagai pihak. Sejumlah sponsor, baik dari organisasi kelembagaan maupun badan usaha swasta, turut berkontribusi dalam menyukseskan acara simulasi tersebut.
Tokoh Pemuda Kiaracondong, Elvin Yos, yang juga aktif sebagai pengurus organisasi kepemudaan di Kota Bandung, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif para siswa SMA Plus Muttahari.
“Acara ini sangat spektakuler bagi saya. Ini menunjukkan kepedulian anak muda, khususnya kalangan pelajar, terhadap perjalanan sejarah bangsa. Terlebih, peristiwa KAA 1955 digelar di Kota Bandung, tempat kita tinggal,” ujarnya.
Elvin menambahkan bahwa generasi muda tidak hanya perlu memahami sejarah KAA, tetapi juga mampu mengimplementasikan semangat perjuangan tersebut dalam kehidupan nyata.
“Lebih penting dari itu, anak-anak sekarang harus mampu memahami sekaligus mengimplementasikan semangat dan perjuangan KAA dalam menghapus penjajahan di muka bumi.
Kemerdekaan Palestina adalah hutang janji dari KAA di Bandung yang hingga kini belum terwujud dan harus terus diperjuangkan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, SMA Plus Muttahari berharap para siswa tidak hanya mengenal sejarah sebagai catatan masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai inspirasi untuk membangun solidaritas dan keadilan global di masa depan. ( Elvin yos)















