Perekrutan Relawan MBG di Purwasari Ciamis Ricuh, Satu Warga Terluka Diduga Dibacok

CIAMIS | BBCOM — Suasana di Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, mendadak mencekam menyusul insiden penganiayaan yang diduga dipicu polemik perekrutan relawan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (29/4/2026).

Seorang warga berinisial DM menjadi korban dalam insiden tersebut. Ia diduga mengalami penganiayaan menggunakan senjata tajam hingga menderita luka sabetan pada bagian jari dan lengan.

Akibat luka yang dideritanya, korban langsung dilarikan ke Puskesmas Banjarsari untuk mendapatkan penanganan medis.

Insiden berdarah itu diduga berkaitan dengan memanasnya situasi di tengah proses perekrutan relawan untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)/MBG yang baru beroperasi di Desa Purwasari.

Sejumlah warga disebut kecewa lantaran tidak diterima sebagai relawan. Mereka menilai proses perekrutan tidak dilakukan secara terbuka dan dinilai sarat kejanggalan.

Bahkan sebelumnya, puluhan warga sempat mendatangi lokasi dapur mitra MBG Purwasari 2 untuk memprotes mekanisme rekrutmen yang dianggap tidak transparan dan tidak berpihak kepada warga sekitar.

Warga menilai proses penyaringan relawan terkesan tertutup. Informasi lowongan disebut tidak diumumkan secara terbuka, baik melalui papan pengumuman, pamflet, maupun media sosial, sehingga banyak warga mengaku tidak mengetahui adanya pembukaan perekrutan.

Akibat minimnya informasi tersebut, muncul dugaan bahwa proses rekrutmen tidak berjalan adil, terutama karena sejumlah warga di sekitar lokasi dapur justru tidak dilibatkan.

Di tengah situasi yang memanas, terjadi insiden penganiayaan dan dugaan ancaman menggunakan golok terhadap korban DM.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku diduga merupakan anak dari seorang perangkat desa setempat.

Pihak korban menilai, keluarga aparatur desa seharusnya dapat meredam ketegangan di tengah masyarakat, bukan justru memperkeruh situasi.

Keributan diduga dipicu oleh ucapan bernada kasar yang dilontarkan seorang aparatur desa saat berada di teras rumah warga. Ucapan tersebut disebut memancing emosi hingga berujung pada aksi kekerasan.

Korban DM menyebut, situasi kemungkinan tidak akan memburuk apabila tidak ada ucapan yang memancing emosi.

“Kalau tidak ada ucapan kasar, saya yakin situasi tidak akan sampai seperti ini,” ujar DM.

Korban menyatakan akan menempuh jalur hukum dan segera melaporkan kasus dugaan penganiayaan tersebut ke pihak kepolisian.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Banjarsari Bripka Wardana membenarkan adanya insiden tersebut.

Menurutnya, pihak kepolisian saat ini masih mendalami kronologi kejadian dan melakukan penjagaan di lokasi guna menjaga situasi tetap kondusif.

“Petugas masih melakukan pendalaman dan pengamanan di lapangan. Untuk laporan resmi, sampai saat ini belum masuk,” ujarnya. (Hendra/Lutfi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *