World Rabies Day, Momen Kontekstual Dispernakan Kabupaten Bandung Barat Mengeliminir Endemis Rabies

Oleh : Teddy Guswana (Redaktur Bandung Brita)

WORLD RABIES DAY (WRD) yang diperingati setiap tanggal 28 September, danpertamakali dicetuskan oleh Global Alliance For Rabies Control (GARC) pada tahun 2007 di Atlanta, Gorgia Amerika Serikat, saat ini telah menjadi kampanye global  yang mampu membangkitkan kesadaran banyak negara bahwa rabies merupakan salah satu penyakit mematikan yang perlu dicegah dan dikendalikan dengan upaya klinis dan medis yang sangat ketat.

Karena itu, World Rabies Day menjadi momen kontekstual, baik dalam konteks kesehatan masyarakat global, kampanye pencegahan  penyakit, maupun situasi di Indonesia yang masih menghadapi tantangan kasus rabies di berbagai daerah.

Berdasarkan data World Health Ogrnisation (WHO), rabies dikategorikan sebagai salah satu penyakit zoonosis paling mematikan dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate) mencapai prosentase sangat tinggi hampir mendekati 100 % begitu gejala klinisnya mulai muncul. Zoonosis sendiri merupakan penyakit menular yang dapat berpindah dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyebabnya adalah adanya berbagai mikroorganisme patogen yang berasal dari hewan.

Mengenai Indonesia, negri ini sekarang masih dikategorikan sebagai salah satu negara endemis rabies di Kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini terdapat catatan Kementrian Kesehatan  bahwa sepanjang periode Januari – Mei 2026 terdapat sekitar 103.701 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR)  dengan kasus kematian sebanyak 52 kasus pada periode yang sama. Angka ini barangkali menjadi indikasi kuat dan peringatan bahwa Rabies memang mematikan dengan tingkat kematian di atas 50 % (merujuk pada angka Kementrian Kesehatan)

Jawa Barat sendiri, hingga pertengahan tahun 2026 masih masuk dalam daftar propinsi endemis rabies. Namun demikian, jika dilihat dari kondisi selama satu tahun yaitu tahun 2025 – 2026 secara umum Jawa Barat berhasil memperlihatan trend penurunan di beberapa kabupaten/kota meskipun Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) masih fluktuatif dan tetap memerlukan kewaspadaan tinggi. Dalam hal ini, Jawa Barat terus berproses menuju eliminasi total dengan berpijak pada program nasional menuju Jawa Bebas Rabies  (JAWARA).

Dalam kaitan itu, maka untuk setiap kabupaten/kota di Jawa Barat dituntut merespon penanggulangan rabies dengan melakukannya melalui pendekatan multisektoral danmelibatkan layanan kesehatan hewan dan manusia, serta vaksinasi hewan secara berkala. Pendekatan multisektor ini dilakukan mengingat penanganan rabies tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu instansi melainkan membutuhkan pendekatan dan penanganan terpadu  ONE HEALTH (Satu kesehatan). Pendekatan ini adalah wujud kolaboratif dan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia terkait erat dengan kesehatan hewan dan lingkungan.

Beberaka kabupaten/kota di Jawa Barat hingga kini memang masih berada pada kondisi terindikasi endemis rabies, yang oleh karenanya pemerintah kabupaten/kota dituntut untuk secara intensif menekan dan mengeliminir kasus kasus rabies agar tidak menjadi ancaman bagi keselamatan masyarakat.

Hingga tahun 2026, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, Kabupaten yang masih dikategorikan  memiliki endemis rabies adalah Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Sukabumi tercatat memiliki riwayat kasus tertular  gigitan Hewan Penular Rabies (HPR), sehingga tetap perlu terus diwaspadai.

Upaya Staregis Pemerintah Kabupaten Bandung Barat

Sebagai salah satu kabupaten yang masih rawan endemis rabies, pemerintah Kabupatan Bandung Barat mau tidak mau dituntut untuk melakukan tindakan pencegahan yang intensif. Dalam hal ini, tekad Kabupaten Bandng Barat didalam mendukung Jawa Bebas Rabies 2029 (Jawara 2029) tentunya perlu dibarengi dengan langkah langkah konkrit.

Langkah langkah konkrit itu, saat ini terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Perikanan dan Peternakan. Berbagai langkah konkrit itu dilakukan melalui upaya upaya Vaksinasi Rabies Masal dengan cakupan wilayah terpencil dan memiliki populasi Hewan Panular Rabies cukup tinggi, Program Pengendalian Populasi hewan liar dan hewan peliharaan yang berpotensi menularkan rabies, Pendekatan Komunitas dan Edukasi One Health, serta Kolaborasi Lintas Sekor dan Kemitraan Swasta.

Saat ini, di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang memerlukan perhatian dan tindakan dalam penanganan dan pencegahan rabies terutama berada di wilayah Selatan Kabupaten Bandung Barat yang meliputi Kecamatan Cipongkor, Kecamatan Gununghalu, Kecamatan Sindangkerta, Kecamatan Cililin, dan juga Wilayah Utara yaitu Kecamatan Lembang dan Kecamatan Ciarua. Di wilayah Kecamatan ini, intensitas kontak antara hewan penular rabies dengan manusia masih cukup tingi, baik hewan liar maupun hewan yang dipelihara, sehingga potensi penularan rabies masih sangat rentan.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Perikanan dan Peternakan cukup intens dalam mengatasi persoalan rabies. Terlebih lagi dalam rangka World Rabies Day 2026, upaya Dispernakan Kabupaten Bandung Barat  semakin teraktualisasi yang tujuannya tentu saja mengeliminir kondisi endemis rabies terutama di wilayah yang selama ini dianggap rentan dalam penularan endemis rabies.

Salah satu bentuk upaya nyata yang dilakukan Dispernakan Kabupaten Bandung Barat dan memiliki dampak cukup penting dalam penagggulangan rabies adalah adanya kinerja jangka panjang dimana dalam waktu lima tahun terakhir Dispernakan Kabupaten Bandung Barat telah menyuntikkan 17.724 dosis vaksin di seluruh wilayah Bandung Barat.

Kini, berkaitan dengan peringatan World Rabies Day 2026, Dispernakan Kabupaten Bandung Barat menjadikannya sebagai momentum untuk mengeliminir endemis rabies melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, mempercepat gerakan vaksinasi di lapangan, serta menyediakan 2.000 dosis vaksin rabies gratis yang disebar di berbagai perumahan, desa dan komunitas.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *