Smart Board dan Starlink Hadir di OKI, Digitalisasi Jangkau SD, SMP hingga PAUD

OKI | BBCOM – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mulai merealisasikan program digitalisasi pembelajaran di 951 satuan pendidikan. Sekolah-sekolah tersebut kini dilengkapi papan interaktif digital (Interactive Flat Panel/IFP), laptop, serta dukungan internet satelit untuk wilayah dengan keterbatasan jaringan.

Program ini menjadi bagian dari transformasi pendidikan berbasis teknologi yang sejalan dengan agenda nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang diimplementasikan di tingkat daerah.

Kepala Dinas Pendidikan OKI, M. Refly, merinci perangkat telah disalurkan ke 479 sekolah dasar negeri dan swasta serta 150 sekolah menengah pertama. Selain itu, tujuh sekolah di daerah dengan sinyal lemah mendapatkan akses internet melalui layanan satelit Starlink.

Untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), dari total 560 lembaga di OKI, sebanyak 256 telah menerima perangkat. Sisanya, sekitar 304 lembaga, ditargetkan menyusul pada tahun ini.

“Sekolah dasar dan menengah pertama sudah menerima perangkat dan kini memasuki tahap optimalisasi pemanfaatan. PAUD akan menerima secara bertahap,” kata Refly saat peluncuran program dan pelatihan pemanfaatan perangkat digital di SMPN 6 Kayuagung, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Refly, perangkat baru dapat digunakan secara maksimal setelah terpasang di ruang kelas dan guru memperoleh pelatihan teknis. Sejumlah guru yang sebelumnya mengikuti pelatihan di Jakarta dilibatkan sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman terkait penggunaan smart board dan integrasi materi ajar berbasis digital.

Bupati OKI, H. Muchendi, menyatakan digitalisasi sekolah merupakan bagian dari agenda prioritas pemerintah pusat dalam mendorong transformasi pendidikan nasional.

“Program ini adalah lompatan kemajuan. Namun perangkat tidak boleh hanya menjadi pajangan. Kuncinya ada pada kesiapan dan kompetensi guru,” ujarnya.

Ia menegaskan, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat literasi, meningkatkan keterampilan digital siswa, serta mendorong metode pembelajaran yang lebih partisipatif dan kontekstual.

“Anak-anak kita hidup di era digital. Jika sekolah tidak beradaptasi, kita akan tertinggal. Digitalisasi ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan,” kata Muchendi.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program, khususnya dalam aspek pemeliharaan perangkat agar tidak berhenti pada tahap distribusi. (pani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *