Keterbatasan Mahasiswa Saat Ini  

18 Mei 2019 / 18:10 WIB Dibaca sebanyak: 104 kali Tulis komentar

Terdapat dinamika menarik apabila melihat kondisi mahasiswa pada saat ini. Mahasiswa yang dahulu terlihat garang dan kritis dalam menghadapi kontroversi pemerintah, kini menjadi berubah haluan sangat drastis. Mengapa demikian? Bagaimana kabar mahasiswa saat ini? Bagaimana kabar pemerintah saat ini?, dan bagaimana kabar Indonesiaku tercinta?

Kritikan mahasiswa memang kerap memegang peranan penting yang mewakili suara dan keresahan dari rakyat. Termasuk dari ada tidaknya kelompok penunggang mahasiswa. Peristiwa seperti Malapetaka Limabelas Januari (Malari) merupakan salah satu bentuk budaya kritis mereka, yang pada saat kejadian tersebut telah dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Dan terlepas pula pada peristiwa 1998 yang membuka keran demokrasi di Indonesia.

Pada saat ini kebebasan suara yang terlontarkan dari mahasiswa mulai dibungkam. Mahasiswa yang dinobatkan sebagai sang pionir perubahan, kemudian kami sebagai mahasiswa saat ini telah minim aksi untuk perubahan, karena kerap dianggap sebagai biang onar di kehidupan yang seharusnya bermasyarakat dan bernegara. Dan mereka yakin keresahan dan kritikannya bisa saja menjadi peluru bagi pemerintah. Kami pun sadar akan hal itu.

Namun tidak semua “mahasiswa” memiliki sifat layaknya seorang mahasiswa, masih banyak sekali yang masih taklid akan ketidaktahuan mereka dalam kondisi pemerintah. Tetapi berbeda halnya dengan mereka yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan baik di pemerintah maupun di kampusnya.

Begitu halnya dengan mengapresiasi kreativitas mahasiswa di lingkungan kampus. Seperti apa yang dirasakan oleh penulis disaat kami yang berasal dari sebuah komunitas disuatu kampus, yang pada saat itu kami membuat sebuah karya yang bahkan tidak ada tujuannya untuk bermaksud provokatif, kami hanya bertujuan memberikan sebuah gagasan yang di mana akan ada suatu peristiwa penting dan untuk kelangsungan terbaik Indonesia ke depannya.  Tetapi tetap saja kreativitas kami dibatasi oleh staf yang berwenang di lembaga kampus kami.

Kreativitas merupakan bagian tak terpisahkan dari pemikiran sivitas akademik terutama mahasiswa, dimana kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan hal baru yang belum pernah ada sebelumnya. Kreativitas serta sebuah kritikan mahasiswa pun dibatasi, lalu bagaimana halnya dengan kelanjutan pemerintah yang selalu mengambil jalan keputusan tanpa memikirkan rakyat dan kami sebagai mahasiswa yang haus akan keadilan? Mereka sebagai mahasiswa hanya ingin masyarakat merasakan peran dari seorang mahasiswa yang selalu memberi solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab dan menyuarakan berbagai masalah yang terjadi di tengah masyarakat. (Bagas Adityo)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *