,

Kearifan lokal di Kota Tikar Dapat Menunjang Perekonomian Keluarga

23 Februari 2019 / 23:36 WIB Dibaca sebanyak: 283 kali Tulis komentar

Laporan: Erpani

PEDAMARAN BBCom-Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir Propinsi Sumatera Selatan yang memiliki luas wilayah 150.000 hektare, sekitar 120.000 hektare merupakan lahan gambut. Bahkan pada tahun 2015 yang lalu sebagian besar arealnya terbakar. Perusahaan perkebunan kelapa sawit menguasai lahan hampir 80 ribu hectare, hanya sekitar 1.000 hektare lahan gambut yang ditumbuhi purun. Tanaman purun tersebut oleh masyarakat Pedamaran di olah menjadi berbagai macam kerajian seperti tikar, tas, sandal dan sebagainya, sehingga Pedamaran dikenal sebagai kota tikar.

Kalau bicara soal kearifan lokal mungkin tidak asing lagi bagi seluruh masyarakat di tanah air, karena beraneka ragam kearifan lokal yang di hasilkan dari masing masing daerah sudah menghiasi negeri ini. Pedamaran yang mempunyai kearifan local, sebagai pengerajin mengayam purun untuk dijadikan berbagai kerajian sudah dilakukan turun termurun oleh masyarakat kota tikar tersebut,

tumbuhan yang hidup di lahan gambut secara alami itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, bahkan bagi ibu rumah kegiatan ini sudah menjadi tradisi dan membudaya menganyam purun sebagai pekerjaan sehari hari, sèhingga hasil yang di dapat bisa membantu perekonomian keluarga dalam membantu suami mencari nafka.

Berbagai inovasi terus dikembangkan sesuai dengan tuntutan jaman, dahulu purun dibuat tikar sekarang berbagai produk beraneka ragam dapat diciptakan. Namun sayang inovasi tersebut berkembang hanya beberapa orang  ibu rumah tangga saja yang bisa berinovasi seperti itu, hal ini disebabkan oleh berbagai macam kendala.

Menurut salah satu warga ibu penganyam purun Tuti ketika di temui BBCom (23/2) mengakui memang lahan tumbuhan purun dulunya ada ribuan hektar,  sekarang tinggal beberapa tempat ada purunnya, itupun terletak di lokasi perkebunan kelapa sawit. kadang ada kendala pencègahan dari pihak perusahan, tapi sekarang pencegahan tersebut sudah berkurang,

Tuti menambahkan mengenai inovasi yang minim pelatihan atau sosialisasi kepada masyarakat. “Saat ini kami di bentuk kelompok-kelompok dan dibina oleh salah satu lembaga purun institud, namun dalam hal ini tetap masih banyak kekurangan, terutama dalam pelatihan inovasi tikar itu sendiri”. Ungkapnya berharap kepada pemerintah atau lembaga lainnya, perkembangan purun jangan sampai punah karena ini sangat membantuh perekonomian keluarga. Pungkasnya.

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *