Kasih Sayang yang Tertutup

19 Mei 2019 / 09:06 WIB Dibaca sebanyak: 297 kali Tulis komentar

Kau adalah sosok gadis SMA yang ceria dan mempunyai banyak teman. Parasmu yang cantik, sikapmu yang rendah hati serta kecerdasanmu membuat siapapun tidak akan menolak berteman denganmu. Banyak lelaki yang jatuh hati denganmu. Namun ternyata hatimu sudah dimiliki oleh seorang lelaki yang beruntung.

Hidupmu semakin lengkap, saat orang tuamu menyambut baik kehadiran lelaki itu dihidupmu. Begitupun sebaliknya, kau diterima baik oleh keluarganya.

Hari-harimu sangat indah. Setiap pulang sekolah, lelaki itu sudah menunggu di depan gerbang sekolahmu untuk menjemput. Tujuannya bukan hanya untuk pulang, mampir ke mal untuk makan atau berbelanja sering kau lakukan bersama lelaki itu.

Apapun yang kau lalui bersama lelaki itu menjadi hal istimewa bagimu, kau rutin membagi kebahagiaan bersama lelaki itu kepada dunia di laman Instagram mu. Seakan dunia hanya milik berdua, tidak ada kebahagiaan lagi selain kau dengan lelaki itu.

Kau selalu ceritakan semua hal indah tentang lelaki itu kepada teman-teman dan juga orang tuamu. Teman-teman yang mendengar ceritamu berkata bahwa hidupmu sangatlah beruntung. Orang tuamu yang mendengar cerita indah tentang lelaki itu hanya mendoakan agar kebaikan selalu menyertaimu setiap saat.

Sembilan bulan berlalu, terlihat semua masih sama saja. Tidak ada kebahagian yang terlihat memudar dari hubunganmu. Selalu ada perayaan tanggal jadi setiap bulan dengan saling memberi hadiah kecil. Setiap hadiah yang kau terima darinya, selalu kau simpan dengan baik. Harapan besar selalu ada dibenakmu bahwa kau akan menerima hadiah istimewa diperayaan satu tahunmu dengan lelaki itu.

Bulan kesepuluh, saat pagi dihari minggu kau menemukan sepucuk surat diteras rumah yang berisi permintaan pamit dari lelaki itu. “Aku pamit pergi jangan lagi cari aku ya,” tulisnya pada surat itu. Seketika harapan hancur, kau merasa hidupmu hampa, separuh jiwamu hilang dan kebahagiaanmu sirna. Entah apa sebabnya ia pergi, kau hanya bisa bertanya pada dirimu sendiri mengenai kepergiannya.

Hari itu kau pergi dari rumah, entah kemana tujuanmu. Dengan raut wajah yang pilu tanpa berpamitan dengan orang tuamu. Kau pergi hingga larut malam. Kau merasa sendiri, tidak ada lagi yang ada disisi. Tidak ada perhatian lagi untukmu, tidak ada kebahagiaan lagi yang hadir setiap hari. Kau terus berjalan. Sementara itu rasa khawatir dan sedih menyelimuti orang tuamu dan teman-temanmu. Tanpa peduli angin malam yang dingin, mereka terus mencari kemana langkahmu pergi.

Sampai akhirnya perjuangan mereka mencarimu tidak sia-sia. Saat menjelang pagi mereka menemukamu sedang sendiri duduk ditepi taman kota. Wajahmu sembab karena menangis seharian. Mereka datang dan memeluk tubuhmu yang dingin. Seakan ribuan pertanyaan terlontar. “Aku sendiri, aku hampa, aku sepi, bahagiaku hilang, tidak ada yang peduli lagi, untuk apa lagi aku hidup?” katamu sambil berteriak.

“Apa maksudmu? Siapa yang meninggalkanmu sampai kau merasa sepi? Kami disini, untukmu selalu,” jawab orang tuamu sambil menangis. Nafasmu seakan berhenti seketika ketika mendengar kalimat tersebut. Seketika kau menyesali, selama ini kau terlalau terlena dengan kebahagiaanmu bersama lelaki itu dan terlalu mencintainya terlalu dalam. Dan kasih sayang orang tuamu sempat tertutup karena lelaki itu. Sampai kau lupa, siapa yang seharusnya kau cintai seutuhnya. (Ummu Hani)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *