Berkeleahi Dengan Waktu

16 Mei 2019 / 08:38 WIB Dibaca sebanyak: 175 kali 1 Komentar

“pecarian ilmu dan nafkah yang harus di pikul oleh dia yang masih bersekolah, dari  gelap hingga gelap”

Tony begitu biasa dia di panggil, anak pertama dari 3 (tiga) saudara, bersekolah dasar di yayasan islam di perkampungan pinggiran ibu kota. Hari dimulai saat matahari belum menunjukan cahaya nya, waktu menunjukan pukul 05.30 pagi dimana dia harus segera bergegas bangun guna menjual kantong plastik hitam besar yang biasa digunakan ibu ibu di pasar untuk membawa sayur mayur, tidak hanya menjual plastik dia juga menawarkan jasa angkut barang dengan harapan bisa mendapatkan uang yang lebih.

Bapak nya bekerja sebagai buruh pabrik dan ibunya bekerja sebagai pelayan di warung makan. Mau tidak mau Tony harus berkorban lebih guna mencukupi hidup keluarga dan demi masa depan dia dan adik-adiknya.

Setelah mendapatkan sedikit uang dan matahari mulai terbit dia bergegas untuk pulang dan siap berangkat sekolah. Sekolah menjadi satu-satunya tempat bermain bersama teman-temannya karena dia sadar tidak ada waktu untuk bermain sebelum dan sepulang sekolah. Tanggung jawab yang begitu berat dipikul oleh anak sekecil dia.

Sepulang sekolah dengan tas yang putus talinya serta baju putih yang mulai menguning dia berlari menuju rumah untuk sekedar merebahkan badan mungilnya. Menatap langit-langit rumah yang tak berplafon. Tak ada waktu beritirahat apalagi bermain Tony mulai bergegas menghampiri ibunya di warung tempat ibunya bekerja dan bersama ibu nya Tony berbelanja tisu yang akan dijualnya di perempatan lampu merah.

Mobil demi mobil dihampiri berharap ada yang mau membeli tisu yang dia jual. Rasa iri, malu akan teman temannya yang melihat dan tanggung jawab akan kehidupan berkecamuk di hati kecil nya. Anak sekecil dia hanya punya satu harapan agar dapat bermain dengan teman sebayanya namun dia sadar itu tidak bisa dia dapatkan agar kelak hidup nya dan keluarga nya dapat lebih baik.

Dagangan tak habis terjual hingga gelap dan dinginnya malam. Duduk dengan muka penuh debu jalanan Tony berdoa agar esok hari segala cita-citanya dapat tercapai dengan segala kerja keras yang telah dia lakukan.

Untuk adik-adiknya, ayahnya dan ibunya dan untuk dirinya kelak.

Penulis : Siti Nuraysha/ Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *