OKI | BBCOM – Warga yang bermukim di bantaran Sungai Babatan, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kembali mengeluhkan maraknya tumbuhan air jenis kumpai atau eceng gondok yang setiap tahun memenuhi aliran sungai.
Tumbuhan yang oleh warga setempat disebut “timbohan” itu hampir setiap hari hanyut dan menumpuk di badan sungai, sehingga menghambat aktivitas transportasi air masyarakat. Sejumlah warga mengaku terdampak secara langsung, mulai dari kesulitan melintas hingga kerusakan rumah dan jembatan akibat tumpukan tumbuhan air yang terbawa arus.
“Kami harus berjaga siang dan malam untuk memastikan kumpai yang hanyut tidak menumpuk di sekitar rumah,” ujar salah seorang warga.
Menurut keterangan warga, kemunculan tumbuhan air tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pembersihan lebak dan lebung oleh para pengemin L3 (lelang lebak lebung) yang dilakukan setiap tahun. Ada pula warga yang menduga timbohan berasal dari program cetak sawah, mengingat ratusan hingga ribuan hektare lahan di wilayah Pedamaran dibuka dan sebelumnya didominasi tumbuhan air.
Menanggapi tudingan tersebut, Kepala Desa Cinta Jaya, Budiman, membantah bahwa program cetak sawah menjadi penyebab utama munculnya timbohan di Sungai Babatan.
“Peristiwa ini memang terjadi hampir setiap tahun dan masyarakat bantaran sungai sudah tidak kaget lagi. Namun jika dikaitkan dengan program cetak sawah, itu kurang tepat. Lahan yang dibuka sudah dibolak-balik sehingga tumbuhan airnya hancur dan membusuk. Jadi bukan dari situ sumbernya,” ujar Budiman melalui pesan WhatsApp, Minggu (19/2/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar masyarakat sebenarnya telah mengetahui asal tumbuhan tersebut. Menurutnya, hampir seluruh wilayah lebak dan lebung yang dilelang setiap tahun memang dipadati tumbuhan kumpai maupun eceng gondok. Para pemenang lelang biasanya melakukan pembersihan agar ikan dapat berkembang biak, dan tumbuhan yang dibersihkan itu kemudian hanyut terbawa arus sungai.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten OKI, H. Baidilah, menyatakan bahwa berdasarkan pemantauan dua pekan terakhir, belum ada laporan resmi terkait keluhan tersebut.
“Sejauh kami monitor dalam dua minggu ini di beberapa L3 belum ada laporan atau keluhan yang disampaikan. Nanti akan kami pelajari dan koordinasikan dengan pihak terkait,” ujarnya singkat.
Warga berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan timbohan yang dinilai menjadi “kado tahunan” bagi masyarakat bantaran Sungai Babatan. Mereka meminta solusi jangka panjang agar aktivitas ekonomi dan transportasi sungai tidak terus terganggu setiap musimnya. (pani)















