Tak Kenal Lelah Mencari Nafkah

14 Juni 2019 / 22:57 WIB Dibaca sebanyak: 129 kali Tulis komentar

Ketika awan telah menampakan warna jingga kemerah-merahan, saatnya lampu bergantungan di atas meja seakan siap menemani transaksi jual-beli berbagai macam dagangan yang akan dijual. Pasar tumpah terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/06).

Pedagang Kaki Lima (PKL) mendirikan tempatnya di sisi Jalan Raya Pondok Gede. Pasar tumpah menyediakan berbagai macam keperluan bahan makanan, seperti sayur-sayuran, ikan segar, ayam, daging sapi, tomat, cabai, bawang, umbi-umbian, bumbu masakan siap saji, dan lain-lain. Setiap sore mulai pukul 17.00 hingga 06.00 WIB keesokan harinya, sepanjang jalan Pasar Pondok Gede dipenuhi lapak-lapak PKL.

Robin Panjaitan (48), pedagang sayur-sayuran di Pasar tumpah, Ia mulai berjualan sekitar 15 tahun yang lalu. Ia ditemani dua Anak laki-lakinya berjualan. Anak pertamanya membuka dagangan yang berbeda dengan menjual cabai, bawang, kentang, tomat, wortel, dan lain-lain. Ia berjualan di belakang Ayahnya. Sedangkan Anak keduanya membantu berdagang sayur-sayuran.

Para pedagang wajib membayar uang kebersihan dan keamanan sejumlah Rp 15.000 dalam sehari. Terkadang ada saja oknum yang tidak bertanggung jawab, seperti preman yang meminta uang kepada pedagang-pedagang. “Sudah biasa kalau mereka meminta uang,” ujar Robin. Ia lebih baik memberikannya dan tidak mau ambil masalah soal itu.

Apabila pihak Satpol PP melakukan penertiban jalan maka para pedagang tidak bisa membuka gerai dagangannya sampai dirasa sudah aman, barulah pedagang bisa berjualan. “Ya mau gimana lagi karena memang sudah tugas mereka seperti itu,” ujarnya. Belum lagi banjir akibat selokan yang mampat dan hujan turun terus-menerus, para pedagang harus tetap berjualan dengan sebatas terpal yang dapat menutupi barang dagangannya.

Sebagian pedagang berjualan di dalam Pasar Pondok Gede, tetapi pedagang lebih memilih berjualan di sisi jalan. “Hasil pendapatan lebih menguntungkan dan tempatnya lebih mudah dijangkau oleh pembeli, sedangkan di dalam pasar pedagang harus membayar tempat kios. Untuk itu, berdagang di sisi jalan lebih murah hanya membayar keamanan dan kebersihannya saja,” kata Robin.

Pasar tumpah tidak menyediakan tempat parkir bagi pembeli yang singgah. Oleh sebab itu, memarkirkan kendaraan mereka di sisi jalan raya. Tidak hanya itu, angkutan umum ngetem tidak pada tempatnya untuk menunggu maupun mengangkut penumpang yang sudah selesai berbelanja sehingga menyebabkan kemacetan di Jalan Raya Pondok Gede.

Dari beberapa pedagang yang mendirikan meja untuk berdagang, berbeda halnya dengan seorang Kakek yang berdiri di pinggir jalan memakai peci hitam, baju abu-abu, celana panjang hijau, dan sandal jepit, sambil menggengam tali bambu untuk dijual. Tali bambu digunakan untuk mengikat sayur-sayuran yang biasa dipakai oleh pedagang.

Ketika Saya bertanya, “Kakek berapa harga tali bambu satu ikatnya?” maka beliau hanya menggerakkan tangan memberikan isyarat bahwa harga tali bambu itu Rp 2.000 untuk satu ikat, lalu Saya memberi uang Rp 5.000 dan mendapatkan dua ikat tali bambu. Pedagang yang berada di belakang Kakek itu berkata kepada Saya bahwa beliau tidak bisa berbicara, atau disebut sebagai tunawicara.

Beberapa pembeli yang lalu lalang dihadapannya, menghampiri beliau untuk membeli barang yang dijualnnya. Meskipun begitu, ada juga yang memberikan uang tanpa mengambil tali bambu tersebut.

Walaupun beliau sudah berumur, tetapi beliau masih giat bekerja dengan berjualan tali bambu tanpa meminta-minta belas kasihan orang lain. (Noviyanti-Politeknik Negeri Jakarta).

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *