Memelihara Kucing, Baik atau Buruk?

29 Juni 2019 / 22:58 WIB Dibaca sebanyak: 3008 kali Tulis komentar

Caption Foto Drh. Nurul Chotimah : Dokumentasi pribadi. Drh. Nurul Chotimah sedang berada di klinik tempat praktiknya.

Oleh. Nurnafisah (Politeknik Negeri Jakarta)

Memiliki hewan peliharaan menjadi salah satu cara menghibur diri di kala penat karena riuh kesibukan, memelihara kucing misalnya. Sebagian orang percaya dengan memelihara kucing hidup mereka akan lebih bahagia. Apalagi dengan banyaknya manfaat yang didapat jika memelihara kucing di rumah, seperti mengurangi rasa cemas dan depresi, memperbaiki mood, meringankan autisme, hingga dapat memperpanjang usia.

Dalam unggahan dosenpsikologi.com, menurut hasil survey yang dilakukan University of Bristol di Inggris pada tahun 2010 menyebutkan, pemilik kucing memiliki persentase yang lebih besar menyandang gelar sarjana dibanding pemilik anjing. Hasil yang sama juga tercatat pada survey di Wisconsin tahun 2014 dengan responden 600 mahasiswa yang mendapatkan bahwa pemilik kucing pada umumnya lebih pintar. Namun, kecerdasan ini bukan semata-mata didapat karena seseorang memelihara kucing, melainkan karena orang cerdas lebih baik memilih kucing untuk peliharaannya dibandingkan hewan jenis lainnya.

“Kalau lagi ada masalah terus main sama kucing biasanya langsung kayakilang aja gitu masalahnya,” kata Nadiya Mufida, seorang gadis penyuka kucing yang ditemui di salah satu petshopdi Bogor.

Berbeda dengan Muhammad Rifqi, seorang pria yang konsultasi ke dokter hewan di salah satupetshop. Menurutnya kucing bisa menjadi pengganggu di saat yang tidak tepat. “Ada kalanya kucing terlihat menggemaskan, tetapi di lain waktu bisa sangat menyebalkan,” lanjutnya sambil memilih makanan kucing di etalase petshop.

Memilih dan memutuskan sesuatu dalam hidup memang akan selalu ada sisi positif dan negatifnya, termasuk memilih untuk memelihara hewan berbulu yang satu ini. Seperti manfaat yang sudah dijelaskan di atas, ternyata memelihara kucing juga bisa membahayakan si pemiliknya. Mulai dari kutu, cakar, hingga bulunya. Seperti apa penjelasannya?

Menurut drh. Nurul Chotimah, seorang dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor 2016, sebenarnya bulu kucing tidak berbahaya bagi manusia yang menghirupnya, kecuali pada seseorang penderita asma keturunan. Berbeda dengan seseorang yang memiliki alergi, biasanya penderita alergi justru tidak mau memelihara kucing. Padahal, jika bermain dengan kucing secara terus-menerus akan ada kemungkinan penderita alergi itu sembuh dari alergi yang dideritanya.

Selain bulu kucing, yang perlu diperhatikan dari kucing adalah cakarnya. Cakar kucing mengandung banyak bakteri, itulah mengapa setelah kita dicakar kucing sangat dianjurkan untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun sampai ke sela-sela kuku.

“Sehabis dicakar kucing, keluarkan darahnya sampai habis kemudian cuci di air mengalir dengan sabun selama 15 menit. Jika darah tidak berhenti, maka dianjurkan pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut,” kata drh. Nurul Chotimah, sambil merapikan alat-alat sehabis melakukan tindakan operasi pada salah satu kucing di petshop.

Banyak pula yang mengataka bahwa kucing dapat menyebabkan kemandulan. Hal itu terjadi karena kucing memang rentan terkena toksoplasma. Penyakit toksoplasma inilah yang menjadi penyebab risiko kemandulan bagi perempuan yang suka terhadap kucing. Namun, yang perlu diketahui, toksoplasma ternyata tidak hanya berasal dari kucing, tetapi juga dari hal lain.

“Kucing yang terkena toksoplasma memang bisa menyebabkan kemandulan, tetapi toksoplasma tidak hanya berasal dari kucing. Bisa juga dari tanah dan rumput. Jadi, berhati-hatilah juga bagi pecinta makanan sayur-sayuran mentah atau daging-daging yang tidak dicuci bersih. Karena bisa jadi tanah dan rumputnya mengandung toksoplasma,” jelas dokter hewan itu sambil membersihkan kacamatanya.

Untuk meminimalisir bahaya dari memelihara kucing, sebaiknya bagi pecinta kucing wajib memperhatikan perawatan sesuai dengan ketentuannya. Seperti diberikan obat cacing dan obat kutu setiap tiga bulan sekali dan jangan lupa untuk vaksin satu tahun sekali.

“Jangan lupa juga untuk menjaga kebersihan dari kucingnya, mulai dari fesesnya hingga tempat tidurnya. Jangan lupa mencuci tangan dengan sabun sehabis bermain bersama kucing,” pesan drh. Nurul Chotimah untuk para pemilik kucing.

“Sedikit menguras tenaga dan kantong sih kalau begitu,” kata Asyiah yang menyampaikan keluhannya selama memelihara kucing. Tapi begitulah, jika ingin hasil terbaik dan menghindari penyakit, memang harus ada pengorbanan si pemilik kucing untuk kebaikan keduanya. “Tapi seru sih, kucing memang menjadi teman paling menyenangkan!” lanjut Asyiah saat hendak pulang dari petshop.

 

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *