Melalui Program Kolaborasi, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat Tangani Persoalan Sampah

Ibrahim Aji, S.E., M.M, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat

Oleh : Teddy Guswana (Redaktur Bandung Berita)

Penutupan TPA Sarimukti yang berlokasi di Kabupaten Bandung Barat tinggal menghitung hari yang rencananya pada bulan Oktober 2026 karena sudah over kapasitas dan masa operasionalnya sudah berakhir.

Dalam kaitan itu, pemda yang terdampak adalah Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Keempat pemerintah daerah ini temasuk Pemerintah Kabupaten Barat sudah tentu mempersiapan strategi untuk bisa mengatasi masalah sampah secara mandiri karena tidak bisa lagi mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir di Sarimukti. Adapun TPAS Legok Nangka, hingga saat ini belum bisa digunakan  karena masih dalam tahap kontrkusi.

Berkaitan dengan itu, maka Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat (DLH KBB) adalah OPD yang paling bertanggung jawab dan dituntut untuk merencanakan dan melaksanakan program program strategis guna mengatasi masalah sampah agar tidak menjadi kondisi terlalu darurat yang akan berdampak pada buruknya kondisi lingkungan terutama pada titik titik lokasi tempat bertumpuknya sampah.

Meski harus diakui bahwa persoalan sampah menjadi persoalan rumit, namun jika Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup bergerak cepat, paling tidak rumitnya masalah sampah akan bisa ditanggulangi meskpun tidak akan bisa mentuntaskan seluruh persoalan yang ada.

Pergerakan progresif itu memang dilakukan oleh DLH KBB. Dalam hal ini, kepala DLH KBB Ibrahm Ajie telah menyiapkan 50 titik pengolahan sampah di berbagai wilayah dengan target kapasitas daya tampung 5  hingga 10 ton per hari. Upaya ini dilakukan agar penanganan sampah di KBB tidak lagi tergantung pada TPA Sarimukti. Upaya mandiri ini meskipun belum sepenunnya bisa mengatasi krisis sampah secara menyeluruh, namun paling tidak bisa mengalihkan sebagian besar beban sampah yang selama ini bergantung pada TPA Sarimukti.

Saat ini, beban timbunan sampah per hari di KBB mencapai sekiar 700 ton per hari. Beban ini tentu bukan beban yang ringan. Namun dengan adanya 50 titik tempat pebuangan sampahyang dipersiapkan DLH KBB, maka beban sampah sekitar 250 – 500 ton perhari sudah bisa ditangguangi secara mandiri. Lantas bagamana dengan sisa beban sampah yang masih belum tertangani?

Upaya Memperkuat Kolaborasi

Untuk itu, DLH KBB telah memiliki langkah langkah strategis yang tidak berjalan sendiri namun dilakukan secara kolaboratif serta adanya ruang partisipasi bagi masyarakat agar turut aktif terlibat dalam penanggulangan sampah. Kolaborasi ini menjadi penting mengingat persoalah sampah menyangkut dan berdampak pada pada aspek lain seperti tercemarnya lingkungan, terganggunya estetika kota dan wilayah, dan berdampak juga pada masalah kesehatan masyarakat. Karenanya, menjadi strategis jika DLH KBB melakukan penanganan masalah sampah secara kolaboratif karena persoalan sampah menjadi tanggung jawab bersama, meskipun tetap leading sektornya berada di tangan DLH.

Berkaitan dengan program yang sifatnya kolaborasi, telah banyak contoh di berbagai program program pemerintah daerah yang menunjukan hasil nyata, mengingat dalam kerangka kolaborasi ini beban persoalan akan bisa ditangani secara bersama sama. Temasukdalam penanganan masalah sampah.

Sebetulnya strategi kolaborasi dalam penanganan suatu masalah bukan hal baru termasuk dalam penanganan masalah sampah. Namun saat ini ketika persoalan sampah menjadi semakin  kompleks dan darurat, maka aksentuasi kolaborasi ini patut dilakukan semakin progresif. Untuk hal ini, maka upaya kolaboratif yang dilakukan DLH KBB patut mendapat dukungan agar berjalan secara optimal.

Betapa krusialnya Kolaborasi penanganan sampah, maka pada tahun ini DLH KBB telah menjadikan program kolaboratif sebagai program strategis. Program kolaboratif yang dijalankan saat ini bukan semata mata karena persoalan sampah tengah berada pada kondisi darurat, tetapi akan menjadi upaya berkelanjutan mengingat persoalan sampah memerlukan perhatian dan penanganan serius, terarah, cepat dan tepat karena terkait dengan keindahan, kenyaman dan kelestarian lingkungan.

Apa yang dilakukan DLH KBB, Nantinya tidak saja persoalan sampahnya yang berhasil ditekan tetapi bisa membentuk budaya bersih di masyarakat dalam artian masyarakat bisa mentaati setiap program dan himbauan yang digulirkan DLH KBB.

Dalam menjalankan program kolaboratif, DLH KBB menggandeng beberapa pihak seperti Bening Saguling Fondation, PT Yilli Indonesia Dairy, Forum Bank Sampah Jawa Barat, pemerintah kecamatan/desa setempat, sektor pendidikan dan organisasi organisasi kemasyarakatan.

Sedangkan program yang dijalankan meliputi pengembangan bank sampah dengan membentuk bank sampah di tingkat desa (satu desa, satu bank sampah), pengelolaan sampah berbasis sekolah dengan menyediakan fasilitas drop box sampah terpilah, sosialisasi tatacara membuah sampah dari rumah di tingkat rumah tangga, dan koordinasi lintas wilayah dengan kabupaten/kota terdekat yang sama sama mengalami darurat sampah serta dengan Pemprov.Jawa Barat guna memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Saat ini, penanganan masalah sampah memang menjadi pekerjaan rumah yang cukup menguras energy. Namun ke depan, dapat dipastikan persoalan sampah di KBB akan semakin terbantu dengan adanya TPST Pasir Buluh, Kecamatan Lembang yang merupakan proyek strategis. Meski saat ini proyek strategis itu masih dalam tahap penilaian akhir West Java Invesment Chalenge (WIJC) namun dengan dilakuannya penialaian akhir, ada harapan proek ini akan terwujud.

Persoalan sampah memang persoalan kompleks. Namun Upaya DLH KBB yang saat ini dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan dipastikan akan bisa mengurangi kompleksnya persoalan secara bertahap. SEMOGA….

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *