,

KLHK Anggarkan 38 Miliar Untuk Reboisasi dan Agroforestry Sebanyak 555 Ha

24 April 2018 / 15:53 WIB Dibaca sebanyak: 1347 kali Tulis komentar

KAB. BANDUNG BBCom-Pada tahun 2018 ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) fokus melakukan penanaman kembali hutan kritis di kawasan hulu sungai Citarum. Hal tersebut dilakukan selain untuk mengurangi banjir karena mampu menghasilkan kawasan resapan air, penghijauan inipun sangat diperlukan untuk mengurangi pencemaran. Pada 2018 ini.

Penanaman kembali hutan kritis di kawasan hulu sungai Citarum fokus di atas 2.500 hektare lahan kritis. Bahkan KLHK, melakukan berbagai program terkait rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di daerah aliran sungai (DAS) telah digulirkan sejak 2015 silam.

Erosi di kawasan hulu menyebabkan pencemaran dan sedimentasi di sepanjang aliran sungai. Sedang hasil data KLHK menunjukkan sejak 2015, erosi di lahan kritis DAS Citarum mencapai 6,1 juta ton per tahun. Kondisi ini terjadi akibat adanya lahan kritis seluas 79.549 hektare. Rinciannya, di dalam kawasan hutan 38.963 hektare dan di luar 40.585 hektare.

“Oleh karena itu, sejak 2015 hingga saat ini, pihaknya telah melakukan RHL di seluas 18.925 hektare,” ujar Kepala Sub Direktorat Pemolaan KLHK Saparis Sudarjanto atau yang akrab disapa Toto saat meninjau lokasi RHL DAS Citarum, di Kampung Babakan Cianjur, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, belum lama ini.

Toto sendiri menyebut, program tersebut saat ini telah membuahkan hasilnya. Yakni, saat ini erosi di lahan kritis DAS Citarum berkurang menjadi 5,2 juta ton per tahun. Pada 2018 ini, pihaknya kembali melakukan hal serupa di atas 2.500 hektare lahan kritis. Bahkan guna melanjutkan RHL di kawasan DAS, KLHK mengalokasikan anggaran Rp 38 miliar, masing-masing untuk reboisasi dan agroforestry di atas 555 hektare.

Program agroforestry sendiri diperlukan mengingat lahan-lahan kritis inipun merupakan milik masyarakat. Sehingga, warga yang memiliki lahan tersebut tidak menolak bila lahan-lahannya dihijaukan karena akan memberi nilai ekonomi. Agroforesteri  adalah  tanaman kombinasi antara tanaman Kehutanan dan tanaman pertanian, ciri hasnya  tataman kehutanan umurnya lebih  dari 5  tahun hingga  6  tahun,  tetapi kalau tanaman pertanian  2 tiga bulan sudah panen.

“Jadi selain ditanami tumbuhan kuat seperti kayu, dengan agroforestry inipun lahan-lahannya ditanami kopi, tomat, dan apapun yang memberi nilai ekonomi,” katanya.

Toto optimistis, target pemerintah yang akan menuntaskan persoalan di Citarum selama 7 tahun bisa tercapai. Asalkan, semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk mengatasinya. “Dengan catatan di sini, yang lain juga digerakkan. Kita persoalannya sinergi, koordinasi,” katanya.

Ia menilai, perlu instrumen baku untuk menyinergikan seluruh unsur terkait. Salah satunya dengan aturan terkait penataan ruang yang memiliki keberpihakan terhadap konservasi kawasan hulu. Yakni, melalui aturan tata ruang yang jelas. Dengan demikian diharapkan, setiap wilayah hulu difungsikan sebagai kawasan lindung sehingga mampu mencegah terjadinya kerusakan yang mengakibatkan bencana. Terlebih, menurutnya dengan menjadikan wilayah hulu sebagai kawasan lindung, sama dengan menambah penampungan air yang kapasitasnya lebih besar dibanding waduk buatan. (adv/dd)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *