Kisah di Balik ‘Surga Pakaian Bekas’

16 Juni 2019 / 18:05 WIB Dibaca sebanyak: 480 kali 1 Komentar

Suatu sore yang cerah aku berniat untuk berjalan-jalan di Jakarta. Ketika sampai di sekitar Pasar Senen, Jakarta Pusat tampak jauh terlihat sebuah keramaian memadati trotoar Pasar Senen, tepatnya di depan Pasar Senen Jaya, Jakarta Pusat. Dengan penuh rasa ingin tahu, aku mulai mendekati keramaian itu.

Foto oleh Carla Josefina D

Ya, ternyata ‘surga pakaian bekas’ di pinggir jalan yang menjadi kerumunan banyak orang. Meskipun di pinggir jalan, tak disangka di sana menjual pakaian-pakaian bermerek. Baik merek lokal maupun merek luar dengan harga yang sangat murah dari harga aslinya atau harga barunya.

Di pasar tersebut kita dapat menemukan pakaian bekas mulai dari baju, celana, jaket, tas, topi, sabuk dan masih banyak lagi. Bahkan, yang sempat membuatku terkejut di sana juga menjual pakaian dalam bekas untuk wanita seperti bra.

Langkahku terus menelurusi ‘surga pakaian bekas’ pinggir jalan tersebut, kanan kiri kutengok dan kuperhatikan. Pasar tersebut ramai dikunjungi dari berbagai kalangan. Baik dari anak muda maupun orang tua yang berburu pakaian-pakaian bermerek.

Barang-barang yang dijual di pasar tersebut memang barang-barang hasil impor. Kebanyakan pedagang-pedagang tersebut membeli dari distributor dalam satuan bal. Sama halnya yang dilakukan oleh Ainipar, salah satu pedagang di pasar tersebut yang kuhampiri.

Foto oleh Carla Josefina D

Ainipar juga mengambil pakaian bekas dari distributor untuk mengisi lapaknya. Biasanya Ainipar mengambil lebih dari 5 bal sampai menggunakan truk untuk membawanya. Ainipar tidak pernah merasa takut rugi jika barang dagangannya tidak habis-habis, karena menurut Ainipar barang yang sisa cukup lama hanya tinggal ia obral saja dengan harga yang lebih sedikit murah dari harga sebelumnya.

Setiap hari jualannya Ainipar selalu ditemani dengan sang istri. Ainipar mengaku sudah sangat lama menjadi pedagang pakaian bekas di pinggir jalan Pasar Senen. Dari saat hidupnya masih terbilang pas-pasan sampai terbilang sukses dari hidup Ainipar yang sebelumnya.

“Sudah lama jualan seperti ini di sini. Dari tahun berapa saya lupa, pokoknya sudah sangat lama. Ya, kita mah hanya main di pinggir jalan seperti ini saja,” tutur istri Ainipar.

Ainipar juga bercerita kepadaku bahwa ia harus rajin dan tekun berjualan pakaian bekas bermerek tersebut demi menafkahi keluarganya. Ainipar tak pernah merasa malu akan pekerjaannya.

“Jualan bekas saya gak malu. Meskipun bekas tapi kualitasnya masih bagus, banyak orang-orang mencarinya, biasanya alasannya karena merek dan harga yang sangat murah,” ucap Ainipar.

Oleh karena semangat dan ketekunan berjualannya, Ainipar bisa bekerja sama dengan pabrik distributor yang menjadi langganan Ainipar, yaitu Ainipar bisa menjadi distributor juga dan tentunya hal itu menambah penghasilan Ainipar.

Seiring bertambahnya penghasilan, Ainipar membuka usaha lain selain berjualan pakaian bekas bermerek, yaitu berjualan pasmina di sekitar Pasar Senen juga. Bahkan, Ainipar mempunyai karyawan yang bekerja di tempat jualan pasminanya tersebut.

“Selain jualan pakaian bekas bermerek di sini, saya juga usaha jualan pasmina tidak jauh dari sini lokasinya. Ada karyawan yang jaga di sana. Saya dan istri di sini saja,” jelas Ainipar.

Berkat berjualan di ‘surga pakaian bekas’ pinggir jalan inilah yang mengantarkan hidup Ainipar dan keluarganya menjadi sukses dari kehidupan sebelumnya. Penulis : Carla Josefina D (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *