Kesabaran Kunci Kebahagiaan

19 Mei 2019 / 22:11 WIB Dibaca sebanyak: 450 kali 1 Komentar

Foto Kakek Dani

Usia bukan halangan akan suatu hal, keterbatasan ekonomi tidak membutakan arah untuk lari dari masalah. Kesadaran bahwa hidup akan terus berjalan menuntut Kakek Dani memperjuangkan hidupnya dengan bekerja. Diusia yang seharusnya beristirahat membuatnya tak mengenal apa pekerjaan dan hasil yang didapatkan.

Sejak istinya meninggal beberapa tahun lalu dan semua anaknya telah berkeluarga membuatnya tak enak hati membebani mereka. Menjadi pedagang buah keliling adalah aktifitasnya sehari-hari sekarang ini. Setiap pagi dibawanya bakul berbahan rotan berisikan buah pisang, apel, dan jeruk dengan semangat. Padahal, apabila dilihat secara fisik kakek Dani memiliki permasalahan yang cukup riskan pada jari kaki kirinya sehingga menyebabkan ia sedikit sulit berjalan. Bahkan, ia tidak memakai alas kaki karena hal tersebut.

Percaya atau tidak, menurut pengakuannya, kakek ini mengalami semacam guna-guna pada kakinya oleh orang yang tidak menyukainya. Bagaimana tidak, sewaktu muda ia adalah seorang pemain bola yang bagus pada masanya. Ikhlas adalah hal yang dipilih “Bang Dani” atas segala hal yang di alaminya. Baginya, hidup akan tetap berwarna walaupun orang lain berusaha untuk menghapus warna tersebut. Karena putih adalah warna.

Pukul setengah 8 pagi merupakan jadwal kerja kakek Dani. Ia telah siap sedia duduk di pinggir Jalan Taman Jeruk Utama beralaskan plastik tebal dengan

kemeja dan peci yang selalu dikenakannya. Ia berjualan tepatnya di Komplek Intercon Jakarta Barat. Padahal, rumah kakek ini sendiri terbilang lumayan jauh, yaitu di daerah Jalan H. Yamin, Petukangan, Jakarta Selatan. Namun jarak lagi-lagi bukan halangan baginya.

“Saya tidak ingin yang aneh-aneh. Saya hanya ingin hidup tanpa menyusahkan orang lain walaupun itu keluarga saya sendiri. Mereka pasti memiliki kepentingan yang lebih dibanding harus mengurusi saya. Selagi saya mampu, jalani saja.” Ucap Kek Dani dengan sedikit serius. Rasanya, hidup yang dijalani beliau sungguhlah tak mudah. Namun jiwanya memaksanya untuk mudah. Situasi yang kini kian memaksa semua umur ekonomi rendah turut ikut serta dalam perkerjaan yang seharusnya bukan untuk mereka. Lagi-lagi, sabar adalah kuncinya.

Dengan menggunakan kendaraan umum beliau berpindah dari rumah menuju tempat berjualan setiap harinya, tanpa lelah, tanpa keluh, tanpa kesah. Menjemput rezeki, katanya. Mencintai waktu, pekerjaan, dan diri sendiri adalah 3 hal utama dalam prinsip Kek Dani dalam hidup. Tak ada yang bilang mudah, namun tak pantas bila berkata susah. Melihat kebawah salah satu cara untuk membuatnya bahagia. Kesehatan yang dimilikinya saja sudah cukup baginya. Bahkan, saat kakinya kesulitan berjalan Kakek Dani masih dapat bekerja dengan rajin. Dan mengemis bukanlah salah satu cara yang dipilihnya. Bisa saja beliau memanfaatkan oranglain untuk mengasihani dirinya. Namun tidak, Kakek Dani adalah orang yang hebat. (Lorenza Ferary – Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *