Jaga Warisan Hayati Sumut, BPDAS Asahan Barumun Tanam Kemenyan di Demplot Toba

SUMUT | BBCOM — Upaya pelestarian tanaman khas Sumatera Utara terus didorong melalui pengembangan dan penanaman kemenyan. Hal tersebut terlihat dalam kunjungan Kepala BPTH Wilayah II Makassar ke Pusat Persemaian Toba, yang turut dihadiri Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Asahan Barumun, H. Taufik Siregar.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan melakukan kegiatan penanaman di demplot kemenyan yang berada di kawasan Pusat Persemaian Toba. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberadaan tanaman kemenyan sebagai salah satu kekayaan hayati yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Sumatera Utara.

H. Taufik Siregar menilai, kemenyan bukan sekadar tanaman yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mempunyai keterkaitan erat dengan lingkungan serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

“Kemenyan merupakan salah satu tanaman khas Sumatera Utara yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi. Karena itu, keberadaannya perlu kita jaga dan lestarikan, bukan hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.” Katanya

Menurutnya, keberadaan demplot kemenyan di Pusat Persemaian Toba dapat menjadi sarana edukasi sekaligus contoh nyata dalam pengembangan tanaman lokal. Penanaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pengembangan secara berkelanjutan.

“Kita ingin tanaman kemenyan tetap menjadi bagian dari identitas dan kekayaan hayati Sumatera Utara. Pengembangannya harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan manfaat bagi masyarakat.” Ujarnya

Kemenyan sendiri dikenal sebagai salah satu komoditas hasil hutan yang telah lama dimanfaatkan masyarakat di Sumatera Utara. Selain memiliki nilai ekonomi, tanaman tersebut juga memiliki nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Kegiatan penanaman di demplot Pusat Persemaian Toba menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya menjaga tanaman lokal. Pelestarian kemenyan dinilai dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem, meningkatkan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan, serta mempertahankan identitas budaya daerah.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan semakin banyak pihak ikut mengambil peran dalam menjaga keberadaan kemenyan, baik melalui penanaman, pemeliharaan maupun edukasi kepada masyarakat.

Pelestarian kemenyan pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan satu jenis tanaman, tetapi juga menjaga warisan ekologis, budaya, dan ekonomi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumatera Utara. (Ddy/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *