Dalam Diam, Aku Menjagamu

“Kalau aku benar-benar jahat,” bisikku pada diriku sendiri, “sejak kau berniat datang ke kotaku, pasti sudah kuterima. Akan kubiarkan langkahmu menjejak di depan pintuku, lalu kita hanyut dalam pertemuan yang mungkin hanya menyisakan penyesalan.”

Namun aku tidak bisa. Ada sejuta alasan yang kutata, meski hatiku menolak.

“Aku tahu… kalau kita bertemu, kau akan kehilangan sesuatu yang tak seharusnya hilang. Kesucianmu. Dan bagaimana aku bisa hidup setelah itu, jika aku yang justru merenggutnya? Tidak, aku tak sanggup.”

Rinduku ingin menjerit, tapi kutekan hingga nyaris mati. Dalam sunyi, aku berbicara padamu yang tak pernah benar-benar hadir di hadapanku.

“Kau tahu? Aku ingin sekali melihat matamu dari dekat. Aku ingin mendengar suaramu tanpa perantara jarak. Tapi aku lebih ingin kau tetap utuh, tetap suci, tetap bersinar seperti yang selama ini kujaga hanya dari jauh.”

Aku sering bertanya pada diri sendiri: apakah ini cinta, atau sekadar luka yang kubalut dengan alasan? Tapi setiap kali aku ingin menyerah, wajahmu muncul dalam ingatan. Dan aku kembali sadar, mencintaimu tak selalu berarti memiliki.

“Suatu hari nanti, kalau semesta mengizinkan, kita akan bertemu. Bukan dalam rahasia, bukan dalam sembunyi-sembunyi. Kita akan bertemu dalam terang, dengan hati yang tidak lagi bersembunyi. Saat itu tiba, aku ingin menatapmu tanpa rasa bersalah, hanya dengan keyakinan bahwa aku pernah menjaga sesuatu yang paling berharga darimu—dari diriku sendiri.”

Malam semakin larut. Rindu terus mengetuk, tapi aku tetap memilih diam. Sebab aku tahu, cinta yang sejati kadang tak diukur dari seberapa erat kita menggenggam, melainkan seberapa ikhlas kita melepaskan… demi kebahagiaan yang kita cintai. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *