Agroforestri Bersifat Swakelola dari Petani, Oleh Petani dan Untuk Petani

30 November 2016 / 20:14 WIB Dibaca sebanyak: 1229 kali Tulis komentar
Bagikan

das-citarumBANDUNG BB.Com–Pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan yang pada dasarnya merupakan usaha-usaha penggunaan sumberdaya alam disuatu DAS secara rasional untuk mencapai tujuan produksi pertanian yang optimum dalam waktu yang tidak terbatas (lestari), disertai dengan upaya untuk menekan kerusakan seminim mungkin sehingga distribusi aliran merata sepanjang tahun.Seperti halnya DAS citarum terutama DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air, oleh karenanya perencanaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.

Aktivitas perubahan tataguna lahan dan atau pembuatan bangunan konservasi yang dilaksanakan di daerah hulu dapat memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air dan transport sedimen serta material terlarut lainnnya atau non-point pollution. Adanya bentuk keterkaitan daerah hulu – hilir seperti tersebut di atas maka kondisi suatu DAS dapat digunakan sebagai satuan unit perencanaan sumberdaya alam termasuk pembangunan pertanian berkelanjutan.

Seperti halnya pada hulu DAS citarum Penurunan ekosistem DAS Citarum ini memang mendapat perhatian serius Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Terbukti, DAS Citarum termasuk salah satu dari 15 DAS Prioritas Indonesia dalam Program Quick Win untuk ditangani pemulihannya.

Upaya rehabilitasi dan penyelamatan telah dilakukan melalui berbagai program dan proyek, baik oleh pemerintah, bantuan luar negeri maupun para pihak terkait, dan salah satu Program yang dilaksanakan DAS citarum adalah bagaimana menahan air hujan sebanyak dan selama mungkin dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air, baik melalui cara vegetatif, agronomi, sipil teknis, managemen maupun penerapan teknologi baru.

BACA JUGA  Pangdam III/Siliwangi, Ijinkan Barak Dijadikan Gudang Bulog.

Kepala Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung Kementerian LHK Dodi Susanto menuturkan, di DAS Citarum terdapat sub-DAS Ciminyak dan Cihaur, yang berada di wilayah KBB. Peran serta pemerintah daerah diperlukan untuk mengatasi persoalan lahan kritis.

“Kerja sama ini bertujuan untuk mencapai sinergitas dalam rangka penanganan DAS prioritas dan lahan kritis oleh para pihak dalam pemulihan DAS dan kualitas kawasan dan luar kawasan, khususnya di DAS Citarum sub-DAS Ciminyak dan Cihaur,” kata nya.

Dia menyebutkan, sub-DAS Cimenyak melewati Kecamatan Gununghalu, Cipongkor, Cililin, Sindangkerta, dan Cihampelas. Sementara sub-DAS Cihaur melintasi Kecamatan Batujajar, Ngamprah, Padalarang, dan Saguling.Sementara menurut Kepala Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung Kementerian LHK Dodi Susanto menuturkan.

“Kegiatan rehabilitasi yang dilakukan di 9 kecamatan dan 56 desa di Bandung Barat itu ialah agroforestri (penggabungan pola pertanian dan kehutanan) seluas 2.000 hektar, dan kegiatan sipil teknis, yaitu pembangunan dam penahan 25 unit, gully plug 150 unit, dan sumur resapan air 700 unit,” paparnya, kegiatan agroforesti tersebut merupakan salah satu program untuk memperbaiki ekosistem alam yang rusak dengan melakukan pengendalian erosi.

“Kegiatan agroforestri merupakan penanaman di luar kawasan hutan, memadukan kegiatan pengelolaan hutan ataupun pohon kayu-kayuan dengan penanamn komoditas tanaman jangka pendek atau semusim, luas kawasan DAS Citarum yang dimanfaatkan untuk kegiatan agroforestri atau wanatani pada 2016 lebih kecil dibandingkan 2015 yang mencapai 5.500 ha. Sedangkan target kegiatan wanatani dalam lima tahun ke depan di DAS Citarum yang meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat seluas 84.173 ha,

BACA JUGA  Satgas Citarum Akan Kaji Hukuman Pencemar Lingkungan di Sekitar DAS Citarum

“Perubahan penggunaan lahan, perlakuan terhadap lahan yang salah, menjadi salah satu faktor utama penyebab semakin besarnya lahan kritis, erosi lahan dan aliran permukaan,” katanya, program Agroforestri bersifat swakelola yakni dari petani, oleh petani dan untuk petani.

“Berbeda dengan program-program sejenis sebelumnya bersifat ‘top down’ untuk kali ini sifatnya dari bawah, yakni petani yang mengajukan Rencana Usulan Kerja Kelompok (RUKK) ke pemerintah (BPDAS) kegiatan agroforesti tersebut merupakan salah satu program untuk memperbaiki ekosistem alam yang rusak dengan melakukan pengendalian erosi Sebagaimana pemanfaatan lahan lainnya, agroforestri dikembangkan untuk memberi manfaat kepada manusia atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Agroforestri diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah pengembangan pedesaan, Agroforestri utamanya diharapkan dapat membantu mengoptimalkan hasil suatu bentuk penggunaan lahan secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat, seperti yang diungkapkan Abah Wandi  ketua salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat pemerhati lingkungan beliau mengharapkan.

“Program Agroforestri diharapkan dapat menjadi salah satu program yang akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat  dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di sepanjang hulu DAS Citarum” katanya dan dengan program agroforestri dikembangkan di daerah hulu DAS Citarum menurut abah adalah salah satu kebijakan dari pemerintah yang perlu diperkuat untuk mendukung” kata abah keseluruhan strategi, program dan proyek pengembangan agroforestri ini agar terus ditingkatkan serta dikembangkan dan di sosialisasikan kemasyarakat khususnya masyarakat disekitar hulu DAS Citarum agar program Agroforestri dapat berhasil seperti apa yang diharapkan seperti apa yang menjadi tujuan dari program tersebut. (G-1)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *