Tetap Berdiri Meski Pernah Akan Dirobohkan

22 Juni 2019 / 08:16 WIB Dibaca sebanyak: 130 kali 1 Komentar

(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Pasar tradisional sudah menjadi tempat langganan bagi banyak orang untuk berbelanja. Tak kalah dengan pusat perbelanjaan ternama, pasar tradisional menjual segala macam kebutuhan mulai dari buah-buahan, pakaian, hingga perabotan rumah tangga.

Alasan seseorang berbelanja di pasar tradisional karena harganya lebih murah, bisa tawar-menawar, buka lebih pagi, dan tidak perlu memakai baju bagus untuk berbelanja. Bukan hanya itu jika berbelanja di pasar tradisional, kita juga bisa membantu mendukung usaha-usaha kecil.

Seperti salah satu pasar tradisional yang ada di Depok yaitu pasar kemiri muka yang berada di jalan Swadaya Raya Kemiri Muka. Pasar dengan luas sekitar 2,6 Ha ini berada disebelah kiri terminal Depok dan Stasiun Depok Baru.

Dengan segala macam aktifitas yang berada di wilayah tersebut menjadikan Pasar Kemiri Muka selalu ramai dengan para pembeli. Pasar yang buka selama 24 jam ini paling banyak menjual berbagai macam perabotan rumah tangga dan buahan-buahan.

Pada April tahun 2018, Pasar Kemiri Muka pernah akan digusur oleh Pemerintah Kota Depok dengan alasan akan dibangun kembali pasar tradisional modern, namun para pedagang tidak menyetujuinya hingga mereka berdemo. “Itu salah satu permainan politik, ya biasa namanya juga orang cari uang. Tapi waktu itu saya tidak ikut demo” ucap Kasbani, salah satu pedagang tempe di Pasar Kemiri Muka yang sudah berjualan dari tahun 1987.

Hingga saat ini pasar tersebut masih berdiri dengan ratusan pedagang dan kios-kios yang berjejeran. Meskipun keadaan jalanan yang becek, sampah yang berserakan dan bau menyengat dari sampah-sampah tersebut, namun para pedagang masih tetap berjualan untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.

Kasbani telah menghidupi keluarganya hingga anak-anaknya bisa masuk perguruan tinggi dan membangun usaha sendiri berkat ia yang berjualan tempe di Pasar Kemiri Muka. Meskipun anak-anaknya sudah sukses, ia tetap berjualan di pasar tersebut dengan alasan agar ia tidak menganggur. (Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta – Mila Arinda Putri)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *