Tengok Wajah Museum Perjoangan

18 Juni 2019 / 21:54 WIB Dibaca sebanyak: 218 kali Tulis komentar

Siapa yang tak tahu museum? Museum ialah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejarah. Tak hanya sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, museum juga dapat menjadi tempat wisata sekaligus tempat pembelajaran bagi masyarakat untuk berbagai kalangan, salah satunya Museum Perjoangan.

Museum yang berada  di Jalan Merdeka, Kota Bogor ini diresmikan pada tahun 1957. Seperti namanya, Museum Perjoangan merupakan salah satu museum yang menyimpan benda-benda bersejarah dan cerita perjuangan para pahlawan di Kota Bogor.

Sekilas tidak ada yang berbeda jika melihat  museum ini dari luar, tampak relief-relief di depan gedung yang menggambarkan perjuangan pada masa kemerdekaan. Terdiri dari dua lantai, Museum Perjoangan berdiri kokoh di antara riuhnya Pusat Grosir Pasar Merdeka, Kota Bogor.

Di lantai dasar terdapat koleksi senjata api, seperti pistol, senapan, granat, hingga bambu runcing. Tidak hanya itu, di lantai dasar juga terdapat koleksi surat kabar hasil peninggalan kegiatan pergerakan pemuda.

Sementara di lantai dua museum, terdapat benda pusaka, seperti bendera serta pakaian yang sudah lusuh dan kotor yang terdapat noda darah sebagaimana aslinya dahulu ketika digunakan para pejuang untuk meraih kemerdekaan. Selain itu, terdapat pula diorama dan studio film yang digunakan untuk memutar film kemerdekaan.

Meskipun sarat akan nilai sejarah, tetapi museum ini justru terlihat sepi. Hal itu dibenarkan oleh  Bowo, seorang penjaga Museum Perjoangan yang telah bekerja selama dua tahun di museum ini.

“Memang dari jumlah kunjungan per hari, kadang ada kadang tidak ada sama sekali. Banyaknya pengunjung biasanya dari sekolah-sekolah. Mereka kesini hanya untuk mengerjakan kewajiban tugas saja. Kadang ramai di hari Sabtu, tetapi paling banyak hanya 10 orang,” ujarnya.

Selain sepi pengunjung, bangunan ini terkesan tak terawat. Seperti yang terdapat di lantai dua, plafon gedung terlihat usang termakan oleh waktu serta minimnya penarangan.

“Memang sudah lama plafon tersebut rusak. Sampai saat ini belum ada perbaikan dari pihak yayasan. Dahulu waktu Pak Diani Budiarto menjabat sebagai Wali Kota, museum mendapat bantuan. Sejak tahun 2014, Pak Bima yang menjabat sampai saat ini museum belum mendapat bantuan apa-apa,” ungkap Bimo. (Silvia Wardatul Alawiyah/mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *