Tak Sekadar Guru

23 Juni 2019 / 18:34 WIB Dibaca sebanyak: 104 kali Tulis komentar

Foto:google

Guru,

Bukanlah sekadar profesi,

Tetapi juga seorang yang memiliki ambisi,

Untuk menggapai mimpi,

Setiap anak yang diajari.

 

Saat ini profesi guru memang  sudah menjadi hal biasa.

Banyak orang yang menjalani profesi ini tanpa pernah menempuh pendidikan khusus sebelumnya.

“Pahlawan tanpa tanda jasa” memang sudah selayaknya disematkan kepadanya.

Kesabarannya yang tanpa batas tak bisa diganti dengan apapun yang ada,

Sebab ketulusan hatinya tak sebanding dengan harga dunia.

 

Tanggung jawab yang besar ada pada dirinya,

Caranya mengajar, membimbing hingga kesabarannya menjadi penentu akhir bagi setiap murid yang diajarinya.

Harapan para orangtua terus membuatnya semangat membantu para murid untuk menggapai asa nya.

Sebab itulah tujuannya,

Mengantarkan murid untuk menggapai asa.

 

Laoshi sapaannya,

Seorang yang menjadi guru secara “otodidak” alias tak pernah menempuh jalur pendidikan guru sebelumnya.

Ia memang hanya guru les mandarin tetapi niat serta semangatnya untuk menjadi guru profesional tak pernah hilang.

Menggeluti pekerjaan sebagai guru les mandarin sejak tahun 1999, sudah banyak yang ia lewati.

Suka dan duka berganti sebagai bumbu dalam pekerjaanya.

Sesekali ia harus mendapati komplain dari para orang tua murid karena nilai yang tak meningkat.

Komplain menjadikannya semangat untuk terus berlatih menjadi guru yang lebih baik kedepannya.

Untuk awal memang masih sulit, tapi Saya percaya bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan niat dan dijalankan dengan penuh sukacita akan mendapatkan buah manis”, kata Laoshi saat ditanya tentang bagaimana bertahan ditengah duka.

Semangat dari duka tersebut akhirnya membuahkan hasil manis.

Saat ini Laoshi bukanlah hanya seorang guru les mandarin, tetapi juga membuka kelas bimbingan belajar dengan mempekerjakan beberapa mahasiswa sebagai guru di tiap-tiap kelas untuk pekerjaan paruh waktu.

Sepuluh tahun mendirikan tempat les, saat ini Laoshi bukanlah hanya sekadar guru, tetapi pengusaha dengan setidaknya enam kelas bimbingan belajar. ( Krisda Tiofani-Mahasiswi  Politeknik Negeri Jakarta)

 

 

Penulis: Krisda Tiofani

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *