BANDUNG | BBCOM – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi dan tantangan ekonomi yang semakin kompleks, keberlangsungan pers lokal di Jawa Barat menjadi ujian berat yang harus dijalani. Bagi Rafael Situmorang, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, membiarkan media lokal meredup sama halnya dengan mengikis jiwa demokrasi di tingkat akar rumput.
“Pers lokal bukan sekadar media informasi. Ia adalah penjaga nalar publik, ruang dialektika rakyat, sekaligus cermin dinamika daerah. Oleh karena itu, ekosistem pers harus dijaga agar tetap hidup dan sehat,” tegas Rafael dalam diskusi kebebasan pers yang berlangsung di Bandung.
Sebagai legislator yang membidangi pemerintahan, komunikasi, dan pers, Rafael melihat secara langsung perjuangan sejumlah media lokal yang berupaya keras bertahan dari tekanan krisis pendanaan, intervensi kepentingan, hingga perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Banyak di antaranya terpaksa menutup kantor redaksi, merampingkan jumlah wartawan, atau bergantung pada iklan pemerintah daerah yang tidak selalu stabil.
Menghidupkan yang Melemah
“Jika pers daerah mati, siapa yang akan menyuarakan aspirasi warga kampung? Siapa yang mengabarkan kebijakan daerah yang keliru? Tidak semua hal dapat diliput media nasional,” ujar Rafael dengan nada penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa ekosistem pers lokal tidak boleh hanya bergantung pada mekanisme pasar dan modal semata. Pemerintah daerah harus hadir membangun infrastruktur informasi yang adil, bukan untuk mengontrol isi pemberitaan, melainkan menciptakan ruang hidup yang sehat bagi media lokal.
Salah satu langkah konkret yang didorongnya adalah penerapan alokasi anggaran media pemerintah dengan prinsip keadilan distribusi dan transparansi. Selain itu, pembinaan media kecil agar mampu mandiri secara profesional dan bisnis menjadi kunci keberlanjutan media lokal.
Membangun Kolaborasi, Bukan Ketergantungan
Rafael juga mengajak seluruh pihak membangun kemitraan yang sehat antara pemerintah, DPRD, dan komunitas media lokal. “Kemitraan bukan sekadar soal memesan berita atau memperbaiki citra. Ini soal saling menguatkan: media memberikan kritik membangun, pemerintah menghargainya sebagai masukan untuk perbaikan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengimbau organisasi profesi wartawan, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menjaga ekosistem pers lokal. Tidak hanya sebagai pembaca pasif, melainkan sebagai mitra aktif dalam membangun literasi dan kontrol sosial yang sehat.
Menjaga Harapan
Meski tantangan kian berat, Rafael tetap optimistis. Ia percaya, selama masih ada wartawan yang berani turun ke lapangan meski tanpa jaminan besar, selama masih ada pembaca yang kritis dan peduli, serta wakil rakyat yang mau mendengar, maka pers lokal memiliki harapan untuk bertahan.
“Perjuangan menjaga hidupnya pers lokal adalah perjuangan menjaga hidupnya demokrasi itu sendiri. Jawa Barat membutuhkan suara jernih dari daerah. Kita semua bertanggung jawab untuk menjaganya,” pungkas Rafael. (adip/dd)















