OKI | BBCOM – Ketua Tim Nawacita–Astacita Presiden RI, Ruri Jumar Saef, angkat bicara terkait dugaan dampak lingkungan dari pelaksanaan Program Cetak Sawah 2025 di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Ia menegaskan program strategis nasional tersebut harus benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan tidak menimbulkan persoalan baru di daerah.
Program Cetak Sawah 2025 merupakan bagian dari agenda Quick Wins 2025 pemerintah pusat, dengan target pembukaan lahan baru seluas 225 ribu hingga 480 ribu hektare di kawasan rawa dan mineral. Program ini dialokasikan anggaran sekitar Rp8,2 triliun guna memperkuat ketahanan pangan nasional serta menekan alih fungsi lahan sawah produktif.
Namun di Kecamatan Pedamaran, sejumlah warga menilai pelaksanaan program tersebut berdampak pada lingkungan dan perekonomian masyarakat yang bergantung pada Sungai Babatan.
Warga menyebut pembukaan lahan rawa yang sebelumnya dipenuhi tanaman air seperti kumpai dan eceng gondok memicu penumpukan vegetasi di aliran sungai. Tanaman air tersebut selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem dan habitat ikan sungai yang menjadi sumber penghidupan warga.
Sebagian warga menduga sisa pembersihan lahan dihanyutkan atau dibuang ke Sungai Babatan, sehingga menyebabkan timbunan kumpai yang menutup sebagian badan sungai dan menghambat arus.
“Dulu sungai ini lancar, sekarang sering tersumbat kumpai. Kami yang tinggal di bantaran sungai ikut terdampak,” ujar seorang warga Pedamaran.

Bantahan Pemerintah Desa
Kepala Desa Cinta Jaya, Budiman, membantah bahwa program cetak sawah menjadi penyebab utama timbunan tanaman air di Sungai Babatan.
“Peristiwa ini memang terjadi hampir setiap tahun dan masyarakat bantaran sungai sudah tidak kaget lagi. Namun jika dikaitkan dengan program cetak sawah, itu kurang tepat. Lahan yang dibuka sudah dibolak-balik sehingga tumbuhan airnya hancur dan membusuk. Jadi bukan dari situ sumbernya,” ujar Budiman melalui pesan WhatsApp, Minggu (19/2/2026).
Menurutnya, wilayah lebak dan lebung yang dilelang setiap tahun memang dipenuhi kumpai dan eceng gondok. Para pemenang lelang biasanya melakukan pembersihan agar ikan dapat berkembang biak, dan sisa tanaman tersebut kerap hanyut terbawa arus sungai.
Pengemin Ikan Terdampak
Di sisi lain, sejumlah pengemin ikan, warga yang mengikuti lelang lebak lebung mengaku hasil tangkapan mereka menurun sejak aktivitas pembukaan lahan berlangsung. Beberapa di antaranya bahkan kesulitan menutup biaya operasional harian maupun mengembalikan modal lelang.
Selain berdampak pada sektor perikanan, penumpukan tanaman air juga mengganggu transportasi air masyarakat. Sejumlah rumah di bantaran sungai dilaporkan sempat tertutup tumpukan kumpai yang hanyut terbawa arus.
Warga khawatir kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem sungai dalam jangka panjang.
Dinas Perikanan: Belum Ada Laporan Resmi
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten OKI, H. Baidilah, menyatakan bahwa berdasarkan pemantauan dua pekan terakhir, belum ada laporan resmi terkait keluhan tersebut.
“Sejauh kami monitor dalam dua minggu ini di beberapa L3 belum ada laporan atau keluhan yang disampaikan. Nanti akan kami pelajari dan koordinasikan dengan pihak terkait,” ujarnya singkat.
Ketua Tim Nawacita–Astacita Presiden Minta Ketegasan
Menanggapi polemik tersebut, Ruri Jumar Saef menegaskan bahwa setiap program pemerintah, termasuk cetak sawah, harus berpihak pada kepentingan rakyat.
“Program ini untuk kesejahteraan masyarakat. Kalau justru merugikan masyarakat, untuk apa dilanjutkan,” ujarnya saat dihubungi melalui pesan singkat (16/2/2026).
Ia menekankan, apabila terdapat dugaan kelalaian atau pelanggaran yang merugikan masyarakat, aparat penegak hukum harus bertindak tegas sesuai aturan yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola program cetak sawah terkait tudingan tersebut. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh agar upaya peningkatan ketahanan pangan tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan dan kehidupan warga di bantaran Sungai Babatan. (red/pn)















