Anak Rantau Penuh Tantangan

27 Juni 2019 / 17:43 WIB Dibaca sebanyak: 171 kali Tulis komentar

Apa yang pertama kali kalian pikirkan jika mendengar tentang “Anak Rantau” ? Pasti mereka adalah seseorang yang mandiri, atau berani, jika kalian memiliki pemikiran seperti itu maka itu tepat sekali.

Namun, pasti beberapa orang ada yang memiliki pemikiran jika menjadi anak rantau itu enak karena mereka dapat hidup bebas tanpa pengawasan orang tua, jika salah satu dari kalian memiliki pemikiran seperti itu maka kalian salah besar menilai tentang anak rantau. Karena sebenarnya menjadi anak rantau itu sangatlah berat. Untuk menjadi anak rantau butuh memiliki mental yang tahan banting, karena sebagai anak rantau akan melalui beberapa kesulitan.

Mahasiswa perantau membutuhkan penyesuaian di lingkungan baru guna memenuhi tuntutan-tuntutan yang sifatnya internal dan eksternal. Menurut Lazarus yang dikutip dari eprints.ums.ac.id mengatakan tuntutan internal adalah tuntutan yang berupa dorongan atau kebutuhan yang berasal dari diri individu.Sedangkan tuntutan yang eksternal adalah tuntutan yang berupa dorongan atau kebutuhan yang berasal dari luar diri individu dan lingkungan sosial. Pada prinsipnya kedua tuntutan itu harus terpenuhi secara seimbang.

Apa itu anak rantau?

Orang-orang yang sering disebut anak Rantau adalah mereka yang berpindah tempat tinggal baik yang menetap maupun hanya sementara ke suatu tempat yang cukup jauh dengan maksud dan tujuan tertentu.

Alasan mereka merantau ke suatu tempat bisa jadi karena pendidikan. Misalnya saja, Rizky Ade yang tinggal di Surabaya harus pergi merantau ke kota Depok untuk melanjutkan kuliah salah satu universitas. Karena ia ingin mengejar cita-cita masa kecilnya untuk kuliah di universitas nomor 1 di Indonesia .

Ada juga alasan mereka merantau adalah karena pekerjaan. Mereka datang untuk mengadu nasib dengan bekerja di kota lain. Berharap masa depan mereka juga akan lebih baik. Menjadi anak rantau berjuta rasanya asam manis, dan pahit campur aduk semua menjadi satu.

Banyak hal yang bisa jadi pembelajaran selama menjadi anak rantau dan terbiasa hidup mandiri, cuci baju sendiri, masak sendiri, segala hal yang berhubungan urusan pribadi semuanya dikerjakan sendiri. Apalagi merantau tanpa ada sanak saudara dekat. Semakin besar kesempatan belajar membangun relasi, kawan, dan saudara baru di tempat yang baru.

Homesick (Rindu Suasana Rumah)

Bagaimana jika homesick? Ini salah satu masalah yang akan dihadapi  anak rantau. Tidak apa-apa jika merasakan homesick di tempat orang. Nikmati saja homesicknya. Justru dengan begitu, kamu bisa banyak belajar untuk menjaga kesehatan. Kamu harus bisa mengurus diri kamu sendiri. Olahraga, tidur yang cukup dan makan makanan yang sehat. Jangan membuat orang tua khawatir mendengar kesehatan kamu yang buruk. Mereka sudah khawatir dengan perantauan kita,  jangan ditambah dengan rasa khawatir lagi dengan kesehatan kamu yang buruk.

Perbedaan Budaya yang Beragam

Budaya? soal budaya yang berbeda dengan kampung halaman? Tentu kita harus bisa beradaptasi secara cepat. Entah itu dari makanan khasnya, budaya orang-orang asli sekitar ataupun keramaian yang akan temui di kota tempat merantau. Anak rantau kerap kali kesulitan saat beradaptasi mengenai budaya ini karena kebiasaan yang telah lama dilakukan harus digantikan dengan hal baru sehingga memerlukan waktu yang tidak singkat.

Kendala yang selalu dialami biasanya perbedaan logat bahasa di Jawa dan Jakarta contohnya pasti berbeda aksen. Tak jarang hal ini kerap kali menjadi batu sandungan bagi anak rantau untuk beradaptasi

Manajemen keuangan

Anak rantau dengan segudang keresahan dan keingintahuannya menjelajah hal baru di kota orang membuat mereka harus pandai dalam mengelola keuangan mereka. Karena bagaimana pun mereka adalah anak yang masih menggantungkan hidup dari biaya orang tua, apalagi di awal kedatangan mereka di kota rantau. Hal ini menjadikan mereka layaknya manajer dadakan yang harus mengatur keperluan mereka sendiri agar tidak kekurangan.

Anak rantau selalu memiliki permasalahan saat di kota baru, namun perlu dimengerti hal itu merupakan proses pendewasaan mereka. Menurut Bennet (1996:28) proses adaptasi merupakan mekanisme pengulangan yang dimanfaatkan manusia sepanjang kehidupanya, tunduk pada interpretasi yang berdasarkan nilai sosial.

Perlu diapresiasi kelebihan anak rantau adalah dapat belajar hidup mandiri dan bersosialisasi dengan teman serta lingkungan barunya dibandingkan dengan anak yang tinggal di kota bersama orang tuanya. Jadi semua itu tetap kembali pada pilihan masing-masing individu. Apa ingin bergerak keluar zona nyaman atau hanya diam dan menikmati alurnya? Silakan saja.

Debrinata Rizky, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *