oleh

Ajid Rosidi Tutup Usia, Burhanudin Abdulah Merasa Kehilangan Tokoh Budayawan


Innalillahi wainnaillaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah AJIP ROSIDI, Budayawan, di RS Tidar Magelang Rabu (29/7/2020) sekitar pkl. 22.30 Mohon dimaafkan segala kekhilafannya.

BANDUNG | BBCOM | Sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi meninggal dunia di usia 82 tahun. Beliau berasal dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, semasa hidupnya almarhum menaruh minat besar terhadap perkembangan bahasa dan sastra Sunda, bahkan gelar doktor kehormatan, honoris causa, bidang ilmu budaya dari Universitas Padjadjaran sempat diraihnya sembilan tahun silam.

Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Burhanudin Abdulah, almarhum Ajip sering terlibat dalam kegiatan kasundaan. Pada 2011 Ajip memberi saya waktu untuk berpidato di Kongres Internasional Budaya Sunda. Bahkan kami pernah juga mendirikan majalah bersama. 

“Alhamdulilliah pada 2019, atas saran Ajip, saya menjadi ketua Pusat Studi Sunda yang mengelola Perpustakaan Ajip Rosidi di Jalan Garut, penerbitan buku-buku sundalana, dan kegiatan lainnya. selama 9 tahun terakhir hubungan antara saya dan Ajip cukup intens. saya merasa kehilangan seorang tokoh budayawan / sastrawan, guru kehidupan, yang tegas, jujur, penuh kedewasaan” ungkap Burhanudin Abdulah mantan Gubernur Bank Indonesia menuturkan pada BBCOM (30/7/2020).

BACA JUGA  Ramadan Tanpa Ibu

Dikatakan Burhanudin, saya mengenal almarhum kang Ajip Rosidi belum lama. Sekitar 15-16 tahun, ketika saya mengundang almarhum untuk bicara soal budaya bangsa di depan seluruh pegawai Bank Indonesia. Katena pada saat itu ada beberapa kali BI mengundang beliau didampingi oleh pembicara-pembicara lainnya. Salah satu yang saya ingat ketika almarhum bicara sebagai pembicara utama didampingi Herlina Supeli, filsup dari Univ Driyarkara. 

Waktu itu almarhum masih menjadi Profesor di Jepang. Saya adalah pengagum almarhum. Kagum karena karya2 tulisannya yang bernas dan sangat banyak. Kekaguman saya bertambah setelah membaca otobiografi nya yang berjudul “Hidup tanpa Ijasah”. Almarhum adalah orang besar. Budayawan yang sulit mencari penggantinya. Ikon budaya masyarakat sunda. Lurus, tegar, berani adalah sikap hidup kesehariannya.

BACA JUGA  Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Terakhir ketemu beliau sekitar 4 bulan yang lalu di esteler di kawasan blok M di Jakarta. Kami sering ketemu di situ sekedar untuk mengobrol. Pada pertemuan terakhir itu saya ingat dengan jelas beliau mengatakan “ … akang deuk ka Pabelan heula. Deuk rada lila. Euceuna oge deuk ngilu…”. Harita oge asa geus beda rarasaan. Boa-boa!

Wilujeng angkat Kang ka alam kalanggengan. Insya Allah almarhum husnul khatimah. Hapunten abdi teu kantos nepangan heula di Pabelan. Ucap Burhanudin Abdulah.(sabur)

Komentar