Oleh : Teddy Guswana (Redaksi Bandung Berita)
19 Juni 2025 Kabupaten Bandung Barat (KBB)menginjak usia 18 tahun. Jika diibaratkan usia manusia, usia 18 menjadi momen memasuki usia dewasa setelah lepas dari masa remaja. Usia dewasa ini semestinya dijadikan momen untuk melangkah ke arah yang lebih baik dan maju serta memiliki manfaat bagi lingkungan.
Bagi sebuah wilayah khususnya Pemda KBB, setelah 17tahun berkiprah dalam pembangunan daerah dan memasuki usia ke 18, patut diakui berbagai tantangan senantiasa masih dan akan terus dihadapi. Bahkan tantangan dan persoalan itu bisa saja menjadi kendala dalam perjalanan pembangunan. Meskipun tantangan, persoalan dan kendala itu pada akhirnya bisa diatasi, tetapi tentu saja patut dijadikan pelajaran dan bahan instrospeksi bahwa didalam membangun suatu wilayahdiperlukan perencanaan matang, baik dari sisi anggaran maupun sisi teknis, dan semua dinas (OPD) semestinya sepakat untuk bergerak dalam irama yang sama bermuara kepada kepentingan masyarakat KBB.
Menginjak usia ke 18 tahun 2025, KBB yang telah dipimpin oleh 3 bupati dan sedang dipimpin oleh bupati ke empat saat ini, tentu masing masing memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Masyarakat pun memiliki penilaian terhadap bupati mana yang paling baik didalam menjalankan kepemimpinannya.
Dalam kaitan itu, baik buruknya kepemimpinan dan berhasil tidaknya seorang bupati memimpin wilayah KBB, tentu masyarakat yang menilai. Jika kemudian timbul pro kontra terhadap kepemimpinan bupati KBB, baik terhadap bupati yang telah usai menjalankan kepemimpinannyabeberapa waktu lalu maupun terhadap bupati terpilih saat ini, hal itu adalah wajar karena yang merasakan manfaat dari kepemimpinan seorang bupati adalah masyarakat. Yang jelas, sosok bupati sudah pasti menginginkan adanya penilaian positif dan konstruktif dari warga masyarakatnya. Namun tentu saja hal ini tergantung kepada kepemipinannya yang benar benar menyentuh kepentingan masyarakat.
Pada Hari Jadi ke 18 tahun ini, harus diakui bahwa kiprah pembangunan di Kab.Bandung Barat tetap menjadi sorotan. Sikap kritis dari beberapa elemen masyarakat pun terus mengalir saperti soal pembangunan infrastruktur yang mangkrak dan pemanfaatannya yang kurang jelas, serta kurang optimalnya pelayanan kepada masyarakat. Kondisi ini tentu patut dijadikan introspeksi bagi kepemimpinan saat ini dan menjadi perhatian serius untuk dipecahkan dengan kebijakan yang benar benar tepat sasaran.
Tentu saja untuk melahirkan kebijakan seperti itu bukanlah soal yang mudah. Apalagi kepemimpinan bupati sekarang (Jeje Ismail) dianggap masih kurang pengalaman didalam menjalankan roda kepemimpinan di lingkungan birokrasi. Namun demikian orang orang disekelilingnya dari mulai Wakil Bupati, Sekretaris Daerah dan para kepala OPD adalah orang orang yang memiliki pengalaman didalam menjalankan birokrasi. Jadi orang orang inilah yang diharapkan bisa membantu dan bersinergy dengan bupati untuk menggulirkan kebijakan yang pro masyarakat. Dalam hal ini bupati Jeje Ismail sendiri sudah terlihat cukupmemperhatikan apa yang dibutuhan masyarakat dengan seringnya turun kebawah melihat dan berbincang dengan masyarakat KBB terutama pada daerah daerah yang memang memerlukan sentuhan pembangunan, dan perlu dijadikan sasaran priroritas.
Berbicara soal kebutuhan pembangunan di wilayah KBB memang cukup besar. Dengan kondisi wilayah yang luas dengan jumlah penduduk yang relatif tinggi maka tuntutan pembangunan dan tuntutan optimalisasi pelayanan masyarakat jelas menjadi isu yang setiap kali muncul pada momen jelang Hari Jadi KBB. Pasalnya, pada momen hari jad,i masyarakat merasa memiliki keyakinan suaranya akan lebih didengar oleh penyelenggara pemerintahan. Inilah yang kemudian banyak yang mengharapkan bahwa hari jadi suatu daerah yang dalam hal ini hari jadi KBB akan menjadi momentum srategis untuk melangkah ke arah dinamika pembangunan yang lebih baik dan maju, serta mendengar dan menyerap keinginan masyarakat.
Pada Hari Jadi ke 18, tantangan yang dihadapi Bupati Jeje Ritchi Ismail dan Wakil Bupati Asep Ismail memang tidaklah ringan. Namun demikian sebagai top management dalam struktur pemerintahan, Bupati dan Wakil Bupati dituntut untuk benar benar mampu menggerakkan seluruh jajarannya di lingngkugan pemerintahan KBB untuk terus bergerak melalui kebijakan yang pro masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah membuka ruang partisipasi publik seluas luasnya agar setiap kebijakan dan langkah pembangunan mendapat dukungan masyarakat KBB.
Sebagaimana tema yang disodorkan yaitu “Bangkit Bersama, Bandung Barat Juara” , maka pada hari jadi ke 18 tahun ini, semoga dinamika pembangunan KBB dilandasi semangat kebersamaan dan optimisme untuk memajukan wilayah dan mensejahterakan masyarakat KBB. Dirgahayu KBB ke 18 !. (Teddy Gus)















