Trotoar Jakarta di Mata Seorang Difabel

19 Mei 2019 / 09:26 WIB Dibaca sebanyak: 179 kali Tulis komentar

Jakarta adalah kota metropolitan, gedung-gedung tinggi tumbuh menjulang, kendaraan setiap hari berlalu-lalang, membuat orang-orang dari seluruh daerah berdatangan.

Tetapi dibalik pembangunan yang semakin masif, trotoar di jakarta seperti dianak tirikan dan tidak diperhatikan. Jakarta, kota yang tidak ramah bagi pejalan kaki, karena mayoritas trotoarnya rusak. Jalan kaki sebentar di Jakarta bisa jadi bencana, apalagi bagi difabel.

Maria Goreti Samiyati, atau yang lebih sering di panggil Ami ini harus merasakan tidak bersahabatnya trotoar Jakarta, ditambah lagi ia adalah seorang difabel. Ami harus merelakan kaki kanannya diamputasi karena kecelakaan motor.

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, hidupnya berubah 180 derajat ketika ketika menjadi disabilitas, ia di pandang sebelah mata, tidak dianggap, bahkan dikucilkan oleh orang-orang sekitarnya.

Keadaan ini membuat Ami menjadi tak percaya diri, hidupnya seakan-akan sudah tidak berarti, bahkan ingin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Namun ketidak percayaan dirinya perlahan-lahan hilang ketika ia kenal dengan olahraga, Ami membuktikan ia tetap bisa berprestasi walaupun dengan keadaan yang tidak sempurna. Ia berhasil meraih medali emas Pekan Paralimpiade Indonesia di nomor 100 meter balap kursi roda.

Menurutnya trotoar di Jakarta kurang ramah bagi penyandang disabilitas, banyak trotoar yang bolong, tidak rata dan dijadikan tempat berjualan pedagang kaki lima. Meskipun terkesan sepele, bagi penyandang disabilas, keadaan tersebut merupakan hambatan besar dalam beraktifitas sehari-hari.

Permasalahan lainnya adalah jembatan penghubung menuju halte transjakarta, menurutnya jembatan terlalu tinggi sehingga membahayakan pengguna kursi roda yang seketika waktu bisa mundur kebawah dan membuat celaka.

Oleh karena itu ia lebih suka berpergian menggunakan angkot, walaupun harus terkena macet, naik angkot lebih praktis karena tidak harus naik tangga penghubung yang tinggi seperti Transjakarta.

“Saya lihat mereka ngasih fasilitas, tapi ada kendalanya,”katanya.

Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan kaum difabel seperti dirinya seperti, dibuatnya trotoar yang layak dan membuat eskalator di setiap jembatan penguhubung ke halte transjakarta. ( Haidar Ronggolawe )

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *