Rumah Singgah Pemberi Harapan

20 Juni 2019 / 20:56 WIB Dibaca sebanyak: 155 kali Tulis komentar

(foto oleh : Velamita Putri)

Masih banyak masyrakat yang underestimate dengan anak jalanan. Mereka berfikir bahwa anak jalanan adalah segerombolan manusia yang tidak memiliki masa depan, sedangkan anak jalanan yang mereka pikir tak memiliki masa depan, juga ingin hidup sukses, memiliki cita-cita, memiliki pendidikan yang layak, dan sebagainya. Hanya saja mereka memiliki hambatan untuk mencapai itu semua, tidak mempunyai biaya yang cukup misalnya?

Namun masih banyak pula mereka yang memiliki kesadaran sosisal mencoba membantu para anak jalanan, untuk mendapatkan pendidikan yang harusnya mereka terima seperti anak-anak pada umumnya.

Membangun sebuah yayasan contohnya, di yayasan, mereka para anak jalanan dibina, diberikan ilmu, dan masih banyak lagi. Seperti salah satu yayasan yang dibina oleh Ali Santoso, atau yang akrab disapa bang Ali. Yayasan ini terletak di Jl.Bacang No. 46 Jati Padang Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Ia bercerita kalau yayasan ini sudah berdiri sejak tahun 1998, berawal dari sebuah komunitas yang didirikan oleh mahasiswa aktivis HMI(Himpunan Mahasiswa Islam) UIN (Universitas Islam Negeri) pada tahun 1997, dimana saat itu hanya ada 8 anak jalanan yang mereka bina.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan tetap berjalan dengan jumlah anak binaan yang masih tetap sama, yaitu 8 anak. Setelah memasuki tahun 1998 tepatnya seusai tragedi 1998 terjadi, jumlah anak-anak jalanan semakin banyak. Akhirnya, para mahasiswa ini berinisiatif untuk mendirikan sebuah yayasan yang dinamakan “Yayasan Bina Anak Pertiwi”.

“Saat itu mereka gak langsung mendirikan yayasan tersebut, tapi baru mendapatkan struktur kepengurusan, tidak ada dewan pendiri dan dewan pengawas” ujarnya. Para mahasiswa ini pun akhirnya mencari dewan pendiri dan dewan pengawas,  dapatlah dewan tersebut, yang memang sebagian besar anggota dewan pada saat itu, salah satunya, Ibu Eses Panigoro, Bapak Dedi Panigoro, Ibu Dewi Pimarali, dan lain-lain.

Tanggal 08 November 1998, resmilah Yayasan Bina Anak Pertiwi ini berdiri. Awalnya, kegiatan yang ada hanya sekadar pendidikan keagamaan dan pendidikan kejar paket.

“Untuk keterampilan dan yang lain itu belum ada, karena dulu kita numpang di Masjid Al-Awwabin, nah dari situ kita pindah ke lenteng agung disitu kita hanya beberapa bulan trus diusir sama warga, dari situ kita pindah lagi ke bojong bertahan setahun trus masih pindah-pindah lagi” ucapnya dengan ramah.

Setelah banyak mengalami perpindahan lokasi, akhirnya pada tahun 2001 yayasan Bina Anak Pertiwi memiliki bangunan permanen, di Jl. Bacang No. 46 Jati Padang Pasar Minggu Jakarta Selatan. Awalnya, kegiatan masih tetap sama yaitu penddikan keagamaan dan pendidikan dasar, lalu mulailah berkembang untuk kegiatan keterampilan, dengan metode kerajinan tangan dimana pada saat itu mereka hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah.

Pada tahun 2010 yaysan ini sudah mulai terjadi goncangan besar, pengurus pun banyak yang mengundurkan diri, hingga tahun 2012 kegitan di yayasan ini vakum. Tidak ada kegiatan, tetapi hanya ada tempat dan anak-anaknya saja.

Ia memtuskan untuk mengundurkan diri tahun 2012, karena saat itu ia ingin menghadapi sidang skripsi tahun 2013, tetapi pembina yayasan pada saat itu pun mulai goyah. Hingga akhirnya ia dipercayakan untuk membina yayasan pada bulan Juni 2013, ia ditinggalkan oleh pembina sebelumnya begitu saja, dengan keadaan legal yayasan yang sudah mati dan bangunan yang sudah tidak layak ditempati.

Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti kerja dan cuti kuliah, keuangannya pun semakin lama semakin menurun, sampai-sampai ia harus memulung.”Disitu saya mikir, masa calon sarjana mulung begini, akhirnya saya putuskan saya harus bangkit, ancur, ancur sekalian bangkit, bangkit sekalian” katanya.

Hingga pada akhirnya tahun 2015, konsep yang dibuatnya berjalan. Seiring berjalannya waktu kegiatan di yayasan pun mulai berjalan dengan normal hingga sekarang. Kegiatan mulai bertambah, terhitung sejak 2019, yayasan ini sudah melalukan 4 program pertama keagamaan, kedua pendidikan, ketiga keterampilan dan yang terakhir adalah kesehatan.

Mengakhiri ceritanya ia berharap yayasan ini kedepannya lebih baik lagi, program-program yang sedang direncanakan pun terlaksana, dan anak-anak dapat lebih maju karena masa depan mereka masih panjang. Ia berharap kelak ketika anak-anak sukses harus bisa berbagi kepada siapapun.

( Velamita Putri/Politeknik Negeri Jakarta)

 

 

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *