Ratangga, Transportasi Idaman Ibu Kota

23 Juni 2019 / 18:23 WIB Dibaca sebanyak: 192 kali 1 Komentar

Ratangga adalah sebutan atau nama lain dari layanan Mass Rapit Transit (MRT) Jakarta. Merupakan sistem transportasi transit cepat ibu kota yang menggunakan kereta rel listrik. Kata Ratangga berasal dari kata bahasa Jawa Kuno yang berarti “kendaraan beroda” atau “kereta”.

Setelah diresmikan dan dioperasikan secara komersil, Ratangga seakan menjadi transportasi idaman masyarakat ibu kota. Bagaimana tidak, semenjak beroperasinya Ratangga, masyarakat khususnya para pekerja kini dapat mengefesiensi waktu dan juga biaya karena kemudahan akses serta kecepatannya.

Rute Bundaran HI-Lebak Bulus, yang biasanya memakan waktu perjalanan selama 90 menit dengan kendaraan lain, kini dapat dipangkas sekitar 30 menit untuk menempuh jarak sepanjang 15,7 kilometer menggunakan Ratangga.

Selain itu, jalurnya yang berbeda dengan kendaraan lain yaitu, jalur bawah tanah dan jalur layang membuat Ratangga menjadi transportasi yang bebas dari macet. Terdapat 7 stasiun layang yakni stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Dan 6 stasiun bawah tanah yaitu Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas serta Bundaran HI. Dengan total 13 stasiun.

Ketika Ratangga melintasi jalur layang, penumpang dapat menikmati indahnya pemandangan ibu kota dari atas. Deretan gedung, pusat perbelanjaan, pemukiman warga dengan segala aktivitas masyarakatnya mewarnai perjalanan Ratangga. Sedangkan saat melaju di jalur bawah tanah, hanya lorong gelap yang terlihat.

Di dalam masing-masing gerbong Ratangga, tersedia kursi bagi penumpang. Juga kursi prioritas yang terdapat pada ujung-ujung kereta untuk lansia, ibu hamil, ibu dengan anak-anak, serta penyandang disabilitas. Bagi para penumpang yang berdiri, tersedia handle gantungan untuk berpegangan.

Saat Ratangga melaju, tidak terdengar suara bising dari mesin sehingga penumpang akan menempuh perjalanan dengan nyaman. Hanya ada suara petugas dari speaker yang secara otomatis memberikan informasi mengenai stasiun pemberhentian berikutnya.

Ratangga menggunakan sistem tiket elektronik yang modern. Masyarakat dapat membeli tiket melalui loket atau mesin tiket otomatis (Vending Machine). Dengan dua kategori tiket yang berbeda yaitu, tiket untuk satu kali perjalanan (Single Trip) dan tiket untuk pulang pergi (Multi Trip).

Kehadiran Ratangga juga semakin mempermudah mobilisasi masyarakat ibu kota karena stasiun-stasiunnya yang terintegrasi dengan moda transportasi lain. Terdapat lima stasiun yang terintegrasi dengan bus Transjakarta (busway) yakni, Stasiun Blok M, Lebak Bulus, Sisingamangaraja, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. Khusus Stasiun Dukuh Atas, tidak hanya terintegrasi bus Transjakarta tetapi juga dengan Stasiun KRL Commuterline Sudirman dan Stasiun Kereta Ekspres Bandara Internasional Soekarno-Hatta karena letaknya yang berdekatan.

Suasana stasiun-stasiun dan Ratangga yang seperti di luar negeri pun menjadi spot foto yang apik. Latar yang menarik tersebut menghasilkan foto estetika. Hingga tidak heran, banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk berswafoto.

Masyarakat akan merasa aman dan nyaman menggunakan moda transportasi ini karena bersih, rapi, ditambah kehadiran petugas yang dengan siap siaga melayani. Serta didukung oleh fasilitas lain yang memadai seperti tempat ibadah, tangga manual, eskalator, lift, toilet, toilet khusus difabel, ruang menyusui, dan ruang P3K. (Amelia Riskita Putri/Politeknik Negeri Jakarta)

 

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *