BANDUNG | BBCOM – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, Rafael Situmorang SH, mendesak pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dorongan ini muncul setelah insiden keracunan massal menimpa ratusan pelajar di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
“Evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan agar tidak ada lagi anak-anak yang dirugikan sebagai penerima manfaat utama program ini,” tegas Rafael, pekan lalu.
Perwakilan daerah pemilihan Kota Bandung dan Cimahi itu menilai kasus keracunan ini menjadi alarm serius bagi penyelenggara program MBG. Ia menekankan perlunya peningkatan kualitas pengelolaan serta pengawasan distribusi makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
Belakangan, berbagai insiden terkait program MBG ramai diberitakan, mulai dari keluhan mengenai kualitas makanan hingga dugaan keracunan yang melibatkan pelajar. Situasi ini juga memunculkan berbagai wacana di publik, termasuk usulan agar bantuan disalurkan langsung kepada orang tua untuk diolah sendiri di rumah.
“Lebih baik bantuan ini diberikan langsung kepada orang tua agar mereka yang memasak makanan bergizi bagi anak-anaknya,” ujar Rafael.
Kasus keracunan di Cipongkor sendiri menyebabkan 301 siswa mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG di sekolah. Para korban tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan: 116 siswa dirawat di Puskesmas Cipongkor, 13 di Bidan Desa Sirnagalih, 27 di RSUD Cililin, 127 di Posko Kecamatan Cipongkor, dan 18 lainnya di RSIA Anugrah.
Insiden serupa juga terjadi di Kabupaten Garut, di mana 569 siswa mengalami gejala mual, muntah, dan diare usai mengonsumsi makanan program MBG. Berulangnya kasus ini menimbulkan kekhawatiran publik terhadap kualitas bahan pangan, higienitas pengolahan makanan, serta efektivitas pengawasan program secara keseluruhan.
Rafael menegaskan, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama pemerintah. Ia meminta pemerintah memperbaiki mekanisme pengadaan dan distribusi makanan demi mencegah insiden serupa terjadi kembali. (adip/dd)















