Polemik Pasar Kemiri Muka

23 Juni 2019 / 11:39 WIB Dibaca sebanyak: 266 kali 1 Komentar

Sumber gambar : Intan Maulida/PNJ)

Pasar tradisional yang berada di bawah Fly Over Jl. Arif Rahman Hakim tepatnya di kelurahan Kemiri Muka tersebut sudah menjadi pusat perbelanjaan bagi masyarakat Depok khususnya di sekitaran Beji dan Margonda.

Pasar yang dapat diakses langsung dengan angkutan umum menyebabkan pasar ini menjadi pilihan utama masyarakat setempat. Selain itu warga yang bukan masyarakat setempat juga dapat mengakses pasar kemiri dengan transportasi commuter line.

Khodijah, salah satu pedagang yang menjual daging sapi mengaku pasar ini selalu ramai pengunjung. Tidak hanya dari warga setempat, pembeli juga berdatangan dari luar Depok. Bahkan Khodijah juga pernah menemui salah satu pembeli yang berasal dari Jakarta. Meskipun ramai pengunjung, Khodijah juga mengaku pendistribusian daging ke Pasar Kemiri Muka ini sangat mudah didapat. Bahkan saat momen lebaran sekalipun, daging di pasar ini tidak langka.

Selama ini harga daging yang naik turun tidak terlalu dipermasalahkan oleh pembeli. Menurut Khodijah hal ini disebabkan karena pasar ini sudah menjadi pilihan utama masyarakat setempat sehingga harga daging yang naik turun tersebut seakan sudah diwajarkan.

“Sayangnya kebersihan pasar ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Seperti sampah menumpuk di pusat pembuangan sampah pasar yang sudah menggunung tinggi dan tidak kunjung dipindahkan oleh pemerintah daerah, ada jalan dengan genangan air keruh, dan selokan yang tidak lancar sehingga bau tak sedap sangat mengganggu kenyamanan baik pedagang maupun pengunjung pasar”. Ucap Khodijah.

Sumber gambar : Intan Maulida/PNJ)

Khodijah juga mengungkapkan kurangnya perhatian dari pemerintah daerah setempat terhadap kebersihan pasar merupakan buntut dari sengketa lahan oleh PT Petamburan Jaya Raya Romulo Silaen yang sudah bergulir sejak 2008. Tetapi selama ini Khodijah mengaku masih dimintai retribusi oleh Pemkot Depok.

Khodijah mengharapkan pemerintah daerah membantu menyelesaikan sengketa lahan tersebut, karena masyarakat setempat sangat bergantung terhadap pasar ini untuk memenuhi kebutuhan pokok. Selain itu bagi Khodijah sendiri berdagang di pasar ini merupakan sumber utama penghasilan keluarga. (Intan Maulida/PNJ)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *