Perjuanganmu Telah Usai

19 Mei 2019 / 05:01 WIB Dibaca sebanyak: 332 kali Tulis komentar

Rintihan itu terdengar lagi, dari sebuah kamar rawat inap di Rumah Sakit Tarakan. Tepatnya di lantai 7, ruangan 7210. Sulit untuk tetap tegar ketika berada di posisi tersebut, namun kau percaya Tuhan selalu bersamamu. Orang tuamu juga selalu didekatmu, mendampingimu tiap hari. Begitu juga dengan teman yang silih berganti, memberi semangat untukmu. Kau pun makin kuat, dan semakin semangat.

Kau adalah seorang mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta yang sangat aktif, mudah bergaul, dan mempunyai banyak teman. Di sela-sela kuliahmu yang padat, kau masih sempat menjadi pelatih paskibra di sebuah SMP yang berada di Pasar Minggu. Kau pun juga aktif mengikuti organisasi kampus seperti Anjangsana Sosial, dan juga Out Magazine. Sesekali, kau juga mendapat panggilan untuk menjadi fotografer. Kau sangat aktif, hingga ketika penyakitmu datang. Kegiatanmu mulai berkurang, hanya menjadi mahasiswa biasa, yang sudah jarang masuk kuliah. Karena kau mulai sibuk dengan pengobatanmu.

Awalnya, kau hanya merasa pegal dibagian kaki kananmu. Pikirmu, dengan beberapa kali urut dan pijat, akan menyembuhkanmu. Nyatanya tidak, kakimu malah bertambah sakit, kau yang tadinya bisa berjalan dengan bantuan kruk, akhirnya tak bisa lagi. Kau pun akhirnya masuk ke rumah sakit, di akhir tahun 2018. Di saat orang-orang sedang menanti pergantian tahun dengan amat bahagia, kau malah harus memperjuangkan penyakitmu.

Kegiatanmu di rumah sakit cukup membosankan, kau hanya bisa duduk, lalu tiduran di bangsalmu, dan sesekali berkeliling menggunakan kursi roda, sebab kakimu sudah teramat sakit untuk menggunakan kruk. Namun, setidaknya di ruanganmu ada jendela besar memperlihatkan indahnya gedung-gedung tinggi. Dan kau cukup sering memandanginya. Mungkin itu hiburan, karena di ruanganmu tak ada televisi.

Hari-hari berganti, kau masih setia menunggu jadwal operasimu. Akan tetapi, kau malah dikecewakan. Operasimu dibatalkan pada tanggal 7 Januari 2019, karena keadanmu tak memungkinkan. Akhirnya kau pun harus menunggu setidaknya seminggu lagi, dan berharap untuk tidak dibatalkan lagi.

Hari itu pun datang, kau diperbolehkan masuk ke ruang operasi. Meski awalnya sempat ingin dibatalkan, namun karena kegigihan orang tuamu yang rela memohon kepada dokter, kau pun diizinkan untuk operasi. Kau masuk ruangan operasi pukul 15.00 WIB, dan dapat ditemui ketika pukul 19.00 WIB di rungan PACU. Pasca operasi wajahmu terlihat amat pucat, dan begitu banyak alat yang terpasang ditubuhmu.

Setelah operasi pertamamu, kau masih harus berjuang lagi untuk menghadapi operasi lanjutanmu. Operasi mengganti tulang bonggol dengan tulang buatan. Waktu berlalu, sampai pada saatnya kau menjalani operasi untuk yang kedua kalinya. Operasi tersebut berjalan lancar tanpa kendala sedikitpun.

Ketika kau harusnya sudah senang, karena telah melewati beberapa rangkaian operasi. Separuh badanmu malah tak dapat bergerak, mulai dari perut hingga ke kaki. Kau pun cemas dan takut akan kondisi dirimu sendiri. Semangatmu perlahan memudar, dan tangismu pun turun dengan perlahan. Kau yang harusnya sudah pulang dari rumah sakit, harus menetap lebih lama lagi, untuk sebuah pemeriksaan lanjutan terkait kondisi tubuhmu. Kau bahkan harus diperiksa di sebuah alat bernama Magenetic Resonance Imaging. Padahal ditubuhmu sudah terdapat alat buatan yang terbuat dari logam, dan di alat tersebut tidak diperbolehkan adanya logam. Namun, karena keadaan memaksa, kau pun diharuskan masuk ke alat tersebut, meskipun terasa sakit.

Hampir satu setengah bulan, kau berada di kamar rawat inap nomor 7210. Kegiatan meminum obat, disuntik, dan hanya bisa tiduran di bangsal terus berulang. Mungkin kau sudah bosan, dengan kegiatan yang itu-itu saja, kau sudah muak akan pahitnya obat. Meskipun kau pernah berkata “selama ada kejelasan dan ada jalan, kau akan kuat”. Namun Tuhan berkata lain. Di tanggal 18 Februari 2019, kau menghembuskan nafas terakhirmu. Hari itu, menjadi hari terakhir perjuangan panjangmu melawan penyakit, kini rasa sakitmu tak lagi menyiksamu. Kau pun sudah tenang berada di sisi-Nya. (Monica Rahayu/PNJ)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *