Perjuangan Untuk Masa Depan Gemilang

19 Mei 2019 / 21:29 WIB Dibaca sebanyak: 218 kali Tulis komentar

Tulisan : Devi Ari Rahmadhani, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

Sumber foto : https://www.suarahati.org/artikel-suara-hati/mengejar-impian/

Pepatah lama mengatakan, jalan lurus belum tentu selalu mulus. Pasti ada saja masalah datang silih berganti. Namun, bagi orang yang tabah, masalah bukan hambatan untuk menjalankan hidup, melainkan tahapan yang harus dilewati untuk mencapai kesuksesan. Salah satunya Deni Kristiyawan.

Lelaki kelahiran Sragen ini selalu kuat, tabah, bekerja keras, dan tak lupa berdoa untuk menghadapi semua masalah yang menghampiri. Hal tersebutlah yang mengantarkan Deni menjadi Inhouse Lawyer/Advokatdi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Siapa sangka anak dari seorang penjaga keamanan di sebuah rumah ibadah (gereja) dan seorang penjual jamu gendong keliling dapat menjadi advokat? Ya, Deni membuktikan hal tersebut bisa saja terjadi. Mau dari latar belakang apapun asal ada keinginan dibantu dengan usaha, kerja keras, dan doa semua bisa menjadi kenyataan, karena menurut Deni usaha, kerja keras, dan doa akan berbanding lurus dengan hasil yang akan didapat.

Dari SD, SMP, SMA, hingga kuliah, Deni selalu mengupayakan mendapat beasiswa supaya meringankan beban orang tua.

Pada tingkat akhir di SMA, hampir seluruh siswa berlomba-lomba berburu perguruan tinggi negeri, tidak terkecuali Deni. Ia mengikuti seleksi ke salah satu universitas negeri di Jawa Tengah. Saat pengumuman, ternyata Deni lolos masuk ke universitas tersebut. Namun, semua kebahagiaan tersebut luntur. Deni tidak dapat melanjutkan kuliah ke sana setelah mempertimbangkan beberapa faktor, salah satunya keadaan keluarga.

Rasa putus asa dan sedih menghantui Deni.

Deni sempat berpikir tidak akan melanjutkan pendidikan karena keadaan keluarga. Namun, semangat Deni bangkit kembali ketika Ayah dan Ibu berpesan, “Nak, ayah dan ibu itu bukan orang pintar dan kaya. Ketika ayah atau ibu pergi meninggalkan dunia, mungkin ayah dan ibu tidak dapat memberi apa-apa untukmu. Ayah dan ibu berharap bisa memberi warisan ke kamu berupa ilmu dan pendidikan yang tinggi. Kamu tidak perlu memikirkan dari mana dan bagaimana biaya kuliahnya, cukup belajar sungguh-sungguh. Dari situ bisa mengangkat  derajat ayah dan ibu juga.”

Maka dari itu walaupun tidak bisa berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah, Deni bersama orang tuanya berupaya mencari universitas lain yang sesuai dengan keadaanya. Akhirnya dipilihlah Universitas Nasional. Ia masuk ke Universitas tersebut dengan bantuan beasiswa.

Perjuangan Deni pun belum selesai. Kehidupan kampus tidak mudah dan murah. Untuk menyelesaikan kuliah butuh kerja keras dan butuh biaya, seperti harus belajar sungguh-sunggus hingga menyusun skripsi, membeli beberapa buku untuk belajar, mengeluarkan uang untuk membuat tugas dan lain sebagainya. Maka, uang dari beasiswa saja ternyata tidak menutup semua kebutuhan. Deni berusaha mencari uang sendiri supaya semua kebutuhan terpenuhi tanpa merepotkan ornag tua. Deni mencari pekerjaan sambilan, mulai dari ngamen, mencuci bus, hingga menjadi kernet bus. “Apa saja saya lakukan asalkan halal,” ujar Deni.

Walaupun ia kerja sampingan, hal tersebut tidak membuatnya tertinggal dalam masalah akademik. Deni tetap giat belajar. Beberapa kompetisi Deni ikuti dan mendapatkan hasil yang memuaskan, salah satunya Juara Kompetisi Debat Hukum Tingkat Nasional di Trisakti pada tahun 2008.

Setelah pasang surut kehidupan kampus, akhirnya Deni dapat menyelaikan studinya pada tahun 2010. Sama sepeprti sarjana lainnya yang baru lulus, Deni pun sempat bingung apa yang harus ia lakukan. Ia sempat menganggur beberapa bulan sambil mencari-cari pekerjaan. Hingga akhirnya pada bulan April, 2011 Deni mendapatkan pekerjaan di Kompas sebagai Legal Staf. Setelah mengabdi selama lebih kurang 2 tahun di Kompas, kemudian ia mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaaan di PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu Badan Usaha Milik Negera (BUMN) yang bergerak di bidang Konstruksi dan EPC.

Orang tua mana yang tidak bahagia dapat membesarkan anak seperti Deni. Hasil jerih payah kedua orang tua untuk membesarkannya terbayar sudah.

Saat ini Deni mampu menghidupi keluarga.  “Puji syukur, Ibu saat ini tidak lagi harus berjualan jamu gendong. Saya sudah membuatkan usaha kelontong kecil-kecilan di rumah,” kata Deni.

Walaupun sudah banyak yang digapai oleh Deni, tetapi masih ada hal lain yang ingin diwujudkan, seperti membangun rumah kasih untuk anak-anak yang kurang beruntung karena tidak memiliki orang tua.

“Untuk orang yang sedang mengenyam pendidikan dibangku kuliah jangan malas belajar, harus banyak-banyak bersyukur, apalagi untuk beberapa mahasiswa yang tinggal menutut ilmu tanpa harus repot-repok memikirkan biaya. Masa depan juga ditentukan oleh diri kita sendiri. Maka untuk mencapai masa depan yang cemerlang dibutuhkan kerja keras, doa, dan restu orang tua,” pesan Deni.

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *