Pengorbanan di Bulan Ramadan

20 Mei 2019 / 10:05 WIB Dibaca sebanyak: 83 kali 1 Komentar

Sumber Gambar Google

Waktu untuk keluarga sangat berharga di bulan puasa. Tetapi tidak untuk pria ini, ia bekerja sepenuh hati dengan semangat mengais rezeki. Usia yang sudah senja tak menghalangi niatnya. Walau kelihatannya tidak seberapa, pria ni berjasa untuk menjaga banyak nyawa. Palang pintu rel kereta, tempat yang tidak terlihat mulia, namun tetap berguna bagi banyak orang sebagai jalan utama.

Tidak ada bangunan kokoh seperti tempat palang  pintu kereta lainnya, hanya ada gubuk sederhana yang tetap basah bila hujan tiba. Panas juga melanda jika matahari sudah berada pada puncaknya, terasa seperti sudah di atas kepala. Rel kereta dekat jalan Juanda lokasi bapak itu bekerja. Menit demi menit, dan jam demi jam berlalu, pria itu tetap menjaga palang pintu dengan wajah yang tersenyum selalu. Rasa belas kasih yang kadang bercampur haru tiap kali saya bertemu pria itu. Wajah penuh keikhlasan terpancar jelas di kerut mukanya yang penuh goresan.

Hanya kardus coklat air minum kemasan yang selalu setia jadi teman. Pengendara motor banyak yang berlalu lalang tanpa hirauan, namun pria itu tetap melayani tanpa mengharapkan imbalan. Rata-rata hanya pengendara mobil yang memberinya sedikit uang atas jasanya. Namun, tetap ada pula pengendara motor yang memang menghargai kerja kerasnya. Waktu ramadan tidak menjadi penghalang ia bekerja, panas terik dan haus melanda bukan jadi persoalan bagi dirinya.

Di suatu malam saat aku melintasi palang pintu kereta itu, aku melihat pria itu masih bekerja. Jam sudah menunjukkan tengah malam, namum pria itu tetap disana. Dalam benakku, pria ini adalah pekerja keras yang penuh ikhlas dan tekadnya melayani orang-orang tidak mengenal kata puas.

Suatu ketika saat azan maghrib berkumandang, segelas es buah sudah ada di genggaman. Ini menjadi bukti bahwa berpuasa memang tak ia lewatkan. Sedikit ku beri lontong dan gorengan sebagai bentuk perhatian. Senyum yang ia lemparkan dan ucapan terima kasih ia haturkan membuatku senang. Jasa dan pekerjaannya itu mungkin tak bisa dikalkulasikan oleh pundi-pundi uang. Namun dengan pemberian itu, kita mampu mengurangi beban bagi ia untuk menjalani kehidupan.

Rezeki sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa, kita hanya bisa berdoa dan terus berusaha. Bersyukurlah karena kita masih diberikan kesempatan menjalani ramadan bersama keluarga. Karena berkah yang sesungguhnya ialah dipertemukan di ramadan berikutnya, sungguh nikmat yang tiada tara.  (Danar Jatikusumo)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *