Pasar Tradisonal Pucung yang Letaknya Strategis

23 Juni 2019 / 11:00 WIB Dibaca sebanyak: 213 kali 2 Komentar

Pasar tradisional pucung yang berada di wilayah Kalimulya, Jatimulya, Depok. Pasar tradisonal yang bisa dibilang areanya tidak terlalu luas. Pasar yang letaknya strategis karena dekat dengan perumahan Grand Depok City, perkantoran pemerintah kota Depok, dan alun-alun kota Depok. Satu lagi pasar ini sedikit unik karena dibelakangi oleh Apartemen Lotus Residence.

Setiap harinya Pasar Pucung selalu ramai dan tidak pernah sepi pembeli. Pengunjung berdatangan bisa dari berbagai wilayah karena berada di empat pertigaan yang ramai, pertemuan Jalan pemda, pertigaan Jalan Kota Kembang, pertigaan Jalan Cilodong merupakan jalan menuju Jalan Raya Bogor, dan pertigaan Jalan Cilangkap menuju Jalan Raya Bogor Cilangkap.

“Saya dari Kalimulya lokasinya dapat dijangkau, dekat dengan rumah saya. Di sini juga bisa belanja sayur dan pakaian,” kata Lina salah satu pembeli di Pasar Pucung sambil memegang belanjaan di tangan kanannya.

Saat menginjakkan kaki di Pasar Pucung ini, seperti pasar tradisonal pada umumnya berderet penjual sayuran, buah, daging, perabotan dan aroma khas pasar yang menyegat hidung. Semakin ke dalam ada perbedaan yang tampak mencolok.

Di dalam Pasar Pucung ternyata dibagi dua bagian yang dibatasi oleh jalanan kecil, yakni sebelah kanan pasar tradisional yang identik dengan bau, becek, dan kotor, kirinya ruko-ruko berderet yang menjual pakaian, sepatu & sandal, toko mas, berlantaikan keramik putih yang kotor oleh jejak kaki pengujung pasar.

Selain itu, Pasar Pucung bukan dikelola oleh pemerintah kota Depok, melainkan dikelola oleh swasta pemiliknya bernama H. Deden. “Pasar ini bukan milik pemerintah, tetapi milik swasta makanya dicampur jadi dua begini tidak pengaruh malah orang lebih suka ada makanan dan pakaian,” kata Mustafa Kamal pedagang plastik.

Jika ingin mampir ke Pasar Pucung jangan lupa siapkan uang Rp2000 rupiah untuk parkir akan ada pengelola pasar yang berdiri di pintu keluar sambil memegang kardus. (Nada Husna/Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *