oleh

Mukhlis Abdul Kholik Penyandang Disabilitas Asal Sukabumi Dapat Respon dari Kemensos

SUKABUMI | BBCOM | Kementerian Sosial melalui Balai Disabilitas Phala Martha di Sukabumi melakukan respon terhadap anak bernama Mukhlis Abdul Kholik (11 tahun) yang kerap disapa Adul, penyandang disabilitas fisik yang berada di Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi.

Tim respon kasus dari Balai Disabilitas Phala Martha di Sukabumi yaitu Abdul Karim Syauki S dan Cep Yoga Firmansyah mendatangi rumah Adul pada Kamis (18/3). Secara umum, kondisi psikologis, sosial dan spiritual Adul baik dan stabil. Adul masih tetap bersekolah seperti biasa.

Kedua orang tua Adul, Ibu Pipin aktivitas sehari-harinya berjualan di rumah sedangkan Dadan Hamdani, Ayah dari Adul merupakan pekerja bangunan.

Menurut keterangan tim respon kasus Balai Disabilitas Phala Martha di Sukabumi, akses menuju rumah Adul melalui jalan setapak kecil yang sudah di cor beton, namun sangat kecil dan sempit. Hanya bisa diakses oleh satu kendaraan bermotor.

BACA JUGA  Aktivis & Pemerhati lingkungan Kota Banjar Sesalkan Kegiatan Pengecoran di Jalan Griya

Dadan menceritakan bahwa keluarganya selama ini telah mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial sejak tahun 2007 hingga sekarang. Selain itu, Adul juga mendapatkan bantuan dari sekolah melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Hanya saja, dirinya mengkhawatirkan kelanjutan pendidikan Adul ke jenjang SMP. Adul masih ingin melanjutkan sekolah, namun tidak memiliki alat bantu untuk beraktivitas menuju sekolah SMP kelak.

Alat bantu seperti kursi roda saat ini belum bisa diadaptasi di kondisi geografis dan struktur rumah Adul yang berada di ketinggian. Kemudian ada beberapa anak tangga yang terbuat dari tanah untuk menuju rumahnya.

Tidak hanya itu, kondisi dalam rumah Adul cukup sempit sehingga akses kursi roda juga kurang memberikan ruang gerak pada Adul. Kalaupun diberikan bantuan motor roda tiga untuknya, sangat tidak memungkinkan karena belum cukup umur.

BACA JUGA  Anggota DPRD Ciamis Klarifikasi Pasca Kecelakaan Tunggal di Banjarsari

Alternatif lain agak menghindari sekolah dengan jarak yang jauh adalah sekolah di pesantren. Namun orang tua Adul terkendala biaya. “Iya, pengennya mondok di pesantren, tapi kami takut mahal,” ujar Dadan.

Selain sebagai penyandang disabilitas fisik, Adul juga memiliki sakit Hernia yang belum sempat tertangani. Oleh karena itu, Kementerian Sosial melalui Balai Disabilitas Phala Martha di Sukabumi akan mengambil langkah merenovasi rumah dan jalan menuju rumah agar aksesibel untuk Adul saat menggunakan alat bantu adaptif dan berkoordinasi dengan tim Balai Besar Disabilitas Prof. Dr. Soeharso Surakarta untuk melakukan terapi dan penyediaan alat bantu yang adaptif

Selain itu, Kemensos juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi bagi keberlanjutan  pendidikan Adul dan memberikan bantuan tindakan medis operasi Hernia yang dialami oleh Adul.(hms/rd)

Komentar