Menilik Kopi Legendaris di Bogor

21 Juni 2019 / 12:53 WIB Dibaca sebanyak: 180 kali Tulis komentar

Oleh. Nurnafisah/Politeknik Negeri Jakarta

Siapa yang tidak pernah minum kopi? Di zaman sekarang, rasanya sangat ketinggalan jika tidak atau belum mencicipi aroma khas dari minuman yang satu ini. Kopi menjadi minuman yang diminati sejak dulu hingga saat ini. Selain karena aromanya yang menenangkan jiwa, kopi juga mampu menjadi teman santai sambil menikmati waktu luang.

Maraknya penikmat kopi mempengaruhi jumlah kedai kopi yang semakin bertambah. Setiap kedai berlomba-lomba menghadirkan rasa kopi yang beragam. Semua kalangan kini bisa menikmati kopi di mana pun dan kapan pun. Beragam jenis kopi disuguhkan demi memuaskan hati si pecinta kopi, mulai dari kopi tubruk yang sederhana hingga cappuccino dan espresso menyentuh hati masing-masing konsumennya.

Di tengah membludaknya kopi-kopi modern, tentu kita tidak boleh meninggalkan kopi-kopi tradisional yang dahulu menjadi favorit di zamannya, seperti salah satu kopi yang dijualdi gerai kopi legendaris di Pasar Bogor ini. Toko ini bukanlah kedai kopi modern, melainkan hanya sebuah toko sederhana yang menjual kopi siap seduh.

Toko ini berada di Jalan Pedati No.27, tepatnya di kawasan Pasar Bogor. Jono Widarto mendirikan toko ini dan memberi nama Toko Agus Kopi Tjap Teko. Kata “Agus” yang diambil dari nama ketiga anaknya, sedangkan kata “teko” diambil karena teko dipercaya sangat berhubungan erat dengan kopi.

Bagi yang ingin mencoba kopi tersebut, bisa membelinya langsung di toko karena kopi ini tidak memiliki cabang di tempat lain. Pembeli hanya bisa mendapatkannya di toko mulai pukul 08.00—15.00 WIB. Masih diminati hingga kini, kopi tjap teko masih konsisten dengan kopi tradisional yang harumnya sangat berciri khas.

Kopi yang dijual terdiri dari berbagai jenis kopi daerah di Indonesia, seperti dari Sumatera dan Jawa. Kopi yang dikirim dari pabrik adalah kopi arabika dan robusta, tetapi saat dilakukan pencampuran kopi menjadi satu rasa yang baru, kopi ini didominasi oleh rasa kopi robusta.

“Jadi di pabrik itu proses semuanya, mulai dari biji mentah, pasca panen, pengeringan, penyimpanan, penggorengan, disangrai, lalu dari situ baru dikirim ke sini untuk proses pencampuran atau penggilingan,” jelas anak sang pemilik toko, Agus Sudardji.

Agus Sutardji menjual kopi hasil gilingannya dengan harga per kantong Rp2.500 dan dijual per kilogramnya dengan harga Rp80.000 dan Rp52.000, tergantung dari jenis kopi yang diminati konsumen. Kopi ini terbagi dua jenis, ada kopi yang premium, yaitu terdiri dari kopi-kopi pilihan dan ada juga kopi biasa dengan harga yang lebih murah. Semua kopi mengalami proses penggilingan dengan alat tradisional yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Setiap tahunnya toko kopi ini memang tidak melakukan inovasi baru, hanya saja berusaha meningkatkan produksi kopi yang sudah dijalani sejak tahun 1960. Setiap bulannya toko ini biasa melakukan penggilingan sekitar 100 kg kopi.

“Penjual kopi memang semakin banyak, seperti penjual kopi di berbagai toko besar dan kopi luar negeri yang masuk ke Indonesia, seperti kopi di hotel-hotel,” kata Agus Sutardji. Ditambah lagi dengan mewabahnya kafe kopi yang juga ikut bersaing  dan menawarkan kopi-kopi yang lebih modern.

“Kopi ini tidak melakukan ekspor seperti kopi lain karena keterbatasan dana dan toko ini masih tergolong toko yang kecil,” kata Agus. Namun, Agus berharap adanya pembatasan pembukaan gerai besar di Indonesia, karena semakin maraknya gerai-gerai dibuka maka penjual kecil seperti dirinya akan semakin tergerus dan terhimpit.

Jadi, kita boleh menikmati berbagai jenis kopi yang ada saat ini, tapi jangan lupa untuk tidak meninggalkan sejarah kopi legendaris yang pernah mampir di hati-hati penikmatnya. Karena tak mungkin ada kopi-kopi modern seperti sekarang ini sebelum kopi-kopi tradisional lebih dulu menarik perhatian. Bukan begitu?

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *