Memahami Isi Hati Anak Broken Home

19 Mei 2019 / 09:15 WIB Dibaca sebanyak: 281 kali Tulis komentar

By : Renna Yavin, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

Foto ; Broken Home_Renna

Setiap anak pasti mengidamkan dilahirkan dari keluarga yang lengkap dan harmonis. Contohnya memiliki Ayah tegas dan bertanggung jawab, ia bisa menjadi tulang punggung keluarga sekaligus melindungi keluarganya. Selanjutnya memiliki Ibu, orang yang dikasihi oleh Ayah, berhati lembut, guru terbaik ketika mengajar di rumah, koki yang hebat dalam memasak. Lebih baik lagi jika memiliki Kakak atau Adik, seorang yang bisa diajak tertawa bersama ataupun bertengkar.

Ya begitulah kurang lebih gambaranku tentang sebuah keluarga yang lengkap dan harmonis, yaitu adanya keberadaan Ayah, Ibu, Kakak, Adik dan tinggal di satu atap yang sama. Jika semua hal itu dimiliki oleh kamu, seharusnya kamu patut bersyukur. Karena tidak semua orang memiliki hal itu, bahkan mungkin ada seseorang yang ingin berada di posisi kamu. Contohnya itu aku.

Aku terlahir dari keluarga yang broken, yaitu keluarga yang tidak utuh. Ayah dan Ibuku berpisah ketika aku masih berumur 2 tahun. Tak begitu banyak hal yang kuingat saat mereka berpisah. Yang jelas mereka memilih untuk melanjutkan hidup masing-masing, tanpa memikirkan perasaanku.

Jika kamu umat beragama pasti langsung berpendapat, “Memang inilah takdir yang diberikan Tuhan untukmu dan kamu tidak bisa menyangkalnya.” Ya iyalah masa aku menentang kehendak Tuhan, dia kan yang menciptakan aku.

Mungkin di luar aku terlihat baik-baik saja, tersenyum dan tertawa seolah-olah aku adalah seseorang yang cukup kuat untuk menghadapi kejadian ini. Sebenarnya, tidak. Bahkan dibilang tidak sama sekali.

Ada saat aku menangis sendiri di sudut kamar. Menginginkan hal-hal kecil yang biasa dialami oleh keluarga utuh. Seperti, menonton tv bersama, makan malam di meja yang sama, atau mungkin berbagi cerita tentang kehidupanku di kampus. Hal-hal kecil itu tidak bisa aku lakukan karena Ayah dan Ibuku kini sudah memiliki kehidupan masing-masing.

Di tahun 2014, ketika aku di SMP, saat itu jam pulang sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan untuk ke luar sekolah begitu pula aku dan teman-temanku. Saat di pintu gerbang sekolah, aku melihat orang tua dari beberapa temanku menjemput mereka di sekolah. Ada yang menjemputnya  menggunakan motor, ada juga yang menjemputnya menggunakan mobil.

Kamu tahu apa yang ada dipikiranku? Ya, aku juga mau dijemput seperti itu. Ketika dijemput, orang tua akan bertanya, “Bagaimana sekolahnya tadi? Apakah ada hal yang menyenangkan?” Aku juga mau seperti itu, tetapi kenyataanya tidak. Aku pulang sekolah hanya dengan angkutan umum. Aku tidak dijemput oleh Ayah atau Ibu, mereka sibuk bekerja dengan dalil untuk menafkahi aku sehingga tidak sempat untuk menjemputku.

Di tahun 2017, ketika aku lulus SMK, aku bingung jika ada acara wisuda di sekolah, siapa yang akan aku undang untuk hadir dalam wisudaku. Ayah atau Ibu? Aku tak mungkin mengundang mereka berdua sekaligus karena saat ini mereka sudah memiliki pasangan baru untuk melanjutkan hidup.

Hal itu sempat membuatku khawatir dan terpikirkan. Untungnya, Tuhan membantuku dan memberikan jawaban bahwa wisuda SMK akan diadakan di Jogja jadi orang tua tak perlu ikut datang. Aku lega sekaligus bersyukur, memang Tuhan itu maha tahu apa yang dibutuhkan Hamba-Nya.

Di lain hal, yaitu di dalam kehidupan masyarakat. Orang-orang masih saja melabeli bahwa anak “Broken Home” itu semuanya sama. Liar, suka melawan, tidak memiliki adab ataupun moral, dan label negatif lainnya.

Hal itu cukup memprihatinkan karena  tidak semua anak “Broken Home” itu sama. Kalau pun sebagian dari kami ada yang seperti itu, cobalah bimbing kami, beritahu kami, agar kami bisa memperbaiki diri, bukannya malah melabeli kami itu tidak baik. Lagipula, banyak juga dari kami yang bisa beradaptasi dengan baik, berteman, berprestasi, dan tumbuh menjadi seseorang yang berkepribadian kuat serta dewasa.

Hidup kami itu sudah cukup berat, menerima kenyataan bahwa keluarga kami tidak utuh. Harapanku semoga tidak ada lagi masyarakat yang melabeli anak “Broken Home” itu buruk. Karena hal itu dapat menambah beban dan memicu emosi dalam diri kami. Jadi, cukup rangkul dan bimbing kami, setidaknya jadilah pendengar yang baik untuk kami.

Terakhir, untuk siapa pun yang terlahir dari keluarga broken, ingat kalian itu tidak sendiri. Banyak orang di dunia ini juga mengalami hal serupa dengan kalian. Jadi, yang perlu kalian lakukan adalah berkegiatan positif yang menghasilkan prestasi sehingga kalian bisa mematahkan stigma-stigma negatif dari masyarakat tentang anak “Broken Home” dan juga tunjukkan kepada kedua orang tua kalian bahwa kalian juga bisa dan layak untuk sukses.

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *