Melanggar Aturan Demi Sesuap Nasi

12 Juni 2019 / 18:14 WIB Dibaca sebanyak: 310 kali Tulis komentar

Langit sedang mendung saat sejumlah kendaraan berjalan di Pintu Selatan Stasiun Jakarta Kota yang tiba-tiba berhenti pada siang itu. “Macet lagi, macet lagi,” keluh salah satu pengendara motor yang terjebak macet di depan Pintu Selatan Jakarta Kota.

Di seberang Gedung BNI yang terletak di sebelah akses pintu keluar Stasiun Jakarta Kota terlihat antrean manusia lalu lalang melewati jalur pedestrian. Kepadatan itu menyatu dengan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berjualan di sepanjang trotoar ke arah Wisata Kota Tua. Membuat pemandangan kian semrawut.

Kota Tua, merupakan destinasi wisata favorit untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Kota Tua berlokasi di Ibu Kota, Jakarta. Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di JakartaIndonesia

Namun untuk menuju Kawasan Wisata Kota Tua,  masyarakat harus rela berbagi akses trotoar dengan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sisi jalan trotoar.

Sedikit berjalan ke Museum Mandiri yang terletak di sisi barat halte Trans Jakarta Kota, para PKL juga memadati sebagian ruas jalan yang seharusnya berfungsi sebagai trotoar atau jalan raya.

Mayoritas pedagang kaki lima menjajakan aneka makanan dan minuman kerap berjualan di ruas jalan. Para pedagang tersebut tak sadar bahwa tindakannya membuat jalanan macet.

Aktivitas jual-beli antara pedagang dan wisatawan kerap mengganggu akses jalan para pejalan kaki lainnya. Tak jarang para wisatawan harus berdesak-desakan saat berjalan di trotoar tersebut.

Gerobak pinggir jalan sengaja diletakkan di pinggir jalan, lalu menggelar terpal sebagai alas bagi para pembeli yang makan dan minum di tempat. Barang dagangan yang memenuhi sisi trotoar kerap menganggu sehingga membuat sulit pejalan kaki jalan yang sedang melintas.

PKL yang datang berasal dari PKL yang datang ke kawasan Kota Tua datang dari lebih 10 kawasan seperti Tambora, Tamansari, Tanjung Priok, Pekojan, dan lainnya.

Wahyu (45) , salah satu pedagang yang berjualan di jalur pedestrian di seberang Gedung BNI mengaku terpaksa berjualan di Kota Tua karena tuntutan hidup. Penjual es selendang mayang itu sadar kalau apa yang dilakukannya menyalahi aturan. “Mau gimana lagi? Ini satu-satunya cara saya mengais rezeki. Kalau engga begini, dapet uangnya dari mana?” ujar Wahyu.

Wahyu mengatakan para PKL sudah paham apabila ada Satpol PP datang, maka mereka harus angkat kaki untuk sementara waktu. Wahyu mengaku hal itu sudah biasa dialaminya. Biasanya para pedagang akan pindah tak jauh dari jalur pedestrian ke Jalan Cengkeh.

“Biasalah kalo suka kejar-kejaran kalau ada Satpol PP datang. Paling kita geser tempat doang,” ujar Wahyu.

Satpol PP biasa datang pada pukul 15.00 WIB untuk menertibkan para PKL liar .“Pindahnya ya paling pada ke dalam situ (Jalan Cengkeh). Tapi ya di situ lebih sepi. Pengunjung banyaknya di sini,” kata Wahyu.

Setelah Satpol PP sudah dipastikan pergi, para PKL akan memadati trotoar di dekat Kawasan Wisata Kota Tua dalam hitungan jam. Mengenai pungutan liar untuk keamanan, Wahyu mengaku tidak ada setoran khusus yang diberikan dan hanya membayar uang kebersihan sebesar Rp 2.000,-.

Ketika ditemui, Wahyu menggunakan topi hitam, baju berwarna biru agak lusuh, dan terlihat sedikit lelah. Is sadar bahwa tindakannya membuat semrawut jalanan sekitar. Namun, ia tak punya pilihan lain, karena hanya itu cara satu-satunya untuk mengais rezeki.

“Saya sadar kalau tindakan saya salah, tapi mau bagaimana lagi, Mbak. Saya juga harus nafkahi keluarga saya. Kalau saya tidak jualan di sini, saya tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujar Wahyu ketika diwawancara.

Memang tindakan para PKL  yang berjualan di trotoar sudah menyalahi aturan. Kerasnya hidup di Jakarta membuat mereka terpaksa melanggar aturan demi keberlangsungan hidup.

Seharusnya pemerintah lebih memikirkan nasib para PKL yang mengais rezeki di Kota Tua. Menyingkirkan mereka bukan solusi terbaik, namun membiarkan mereka juga hanya akan menambah semrawut Kota Tua.

Dalam menciptakan Kota Tua yang rapih, tidak harus menyingkirkan mereka, tetapi juga bisa memberikan penyuluhan dan menyediakan tempat untuk berjualan bagi PKL agar mereka tidak kehilangan mata pencahariannya. (Audia Natasha Putri/Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *