Kontribusi Islam pada Barat Oleh : Mohammed Pratama Zamorano

30 Mei 2018 / 00:22 WIB Dibaca sebanyak: 251 kali Tulis komentar

Kontribusi Islam pada Barat
Oleh : Mohammed Pratama Zamorano

Assalammualaikum Wr.Wb
Dalam momentum bulan suci Ramadhan seperti sekarang dan dalam menjalankan ibadah puasa dibulan suci ini, ada baiknya bila kita bersama – sama berdiskusi tentang Kontribusi Islam pada Barat. Semoga kita bisa menjadikan penyemangat dalam melakukan kebaikan, menambah wawasan dan dihitung mendai amal kebaikan. Abad pertengahan (antara abad ke-9 sampai abad ke-14) Barat menyebut sebagai “the dark ages” (Abad kegelapan), sedangkan bagi Islam abad pertengahan adalah “Ashr al-Izdihar” dan “Al-Ashr Adz-Dzahabi” (Zaman Keemasan). Di saat Barat dilanda oleh zaman kegelapan, Islam di Timur telah bersinar dengan peradaban manusia, bahkan Islampun telah menerangi Barat (Khususnya Eropa) dengan bijaksana. Pada waktu berlangsungnya perang salib (antara 489-669 H / 1096-1270 M) di kota Damaskus umpamanya telah memiliki 20 madrasah dan 2 rumah sakit yang di kelola secara profesional.

Robert Stephen Briffault (1948-1976), dalam The Making of Humanity menulis meski tak satu aspekpun pertumbuhan Eropa tak dipenggaruhi secara menentukan oleh kebudayaan Islam, pengaruh yang paling jelas dan penting adalah sains-sains kealaman (Natural Sciences) dan ruh ilmiah (Scientific Spirit). Sains adalah sumbangan terbesar perabadan Islam kepada dunia modern, tetapi buahnya lambat masaknya. Selain itu masih banyak sarjana Barat yang mengungkapkan besarnya sumbangan pemikiran dan sains Islam terhadap barat, bahkan dunia modern pada umumnya seperti Thomas Arnold, Alfred Guillame, George Anawati, Gustave Lebon, George Sarton, R.P.A Dazy, Jhon William Droper, dll.

Pengakuan Barat terhadap Islam juga dinyatakan oleh politisi Barat seperti Robin Cock (Mentri luar negeri Inggris) dalam pidatonya di markas sekte Ismailiyyah London tanggal 8 Oktober 1999, Robin berkata markas ini adalah inti dari musium arsitektur Islam dan sebaik-baik pengingat bagi kami di jantung kota London ini bahwa akar kebudayaan kami bukan saja Yunani atau Romawi, tetapi juga Islam. Sesungguhnya peradaban kami berhutang kepada Islam yang tidak boleh dilupakan oleh Eropa (Barat).
Kontak Islam dengan Barat dan proses yang mempengaruhi pemikiran dan sains barat dan sains islam antara lain:

1. Andalusia (Spanyol)
Pada abad ke-9 ibu kota Andalusia, Qurthubah (Kordova) telah tampil layaknya kota metropolitan di abad modern ini, jalan – jalan rapih lengkap dengan penerangannya, taman-taman, hotel-hotel, pusat-pusat perbelanjaan, masjid-masjid, istana-istana, Gedung-gedung dan Universitas-Universitas mewarnai megahnya Kordova. Kejayaan ini mencapai puncaknya pada abad ke-11M, ketika para pakar muslim berdatangkan ke Andalusia dari Iraq, Syam, dan Mesir karena pemerintah Muslim Andalusia benar-benar memberi tempat terhormat bagi para ilmuan. Mereka membawa literatur-literatur dari Timur dalam berbagai ilmu ke Andalusia. Dinamika keilmuan ini terus berlanjut sekalipun kekuasaan muslim Spanyol tercabik-cabik. Di Teledo, wilayah yang direbut kembali oleh orang-orang Nasrani (oleh Alvonzo VI) terdapat masjid dan perpustakaan yang amat kaya dengan literatur. Orang-orang disana melakukan proyek penerjemahan besar-besaran untuk mereka pempelajari matematika, fisika, kedokteran, astronomi, kimia dari Universitas-Universitas di Kordoba.Penerjemahan dilakukan dari bahasa Arab ke bahasa latin dan juga Ibrani untuk kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa-bahasa Eropa dengan menghilangkan nuansa Islamnya.

2. Shaqaliyyah (Sisilia)
Di Salerno (Ibu kota Sisilia) menjadi tempat belajar sains Islam khususnya kedokteran, penerjemahan besar-besaran dilakukan terutama oleh Constantinus Africanus (1087M) yang beruntung menjadi murid dari seorang muslim Arab. Dia menerjemahkan karya-karya Hippocrates dan Gales dari Arab ke Latin. Pada abad ke XII M, terjadi penerjemahan besar-besaran karena dorongan dari Fredrick II dan Roger II, dalam waktu 25 tahun saja, Fredrick berhasil mengumpulkan seluruh karya dari Ibn Rusyd setelah kematian filosof itu di 1198 M.

3. Kontak Perdagangan
Kontak pribadi antara wilayah Bizantium dan Islam terjadi di Syria, Mesir dan Persia setelah wilayah tersebut di taklukan oleh ekpedisi Islam sejak masa Umar Ibn Khattab.

4. Konstantinopel
Pada masa pemerintahan Muhammad II (sekitar abad 15 M). Kerajaan Turki Usmani telah mencapai puncak kejaan. Pada tahun 1453, Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel yang terkuat lambang Imperium Bizantium. Dengan berhasil menaklukan Konstantinopel, dipindahkannya ibu kota Khalifah Utsmaniyyah ke Konstantinopel (sekarang Istanbul) maka konstantinopel memasuki babak baru yang penuh dengan ilmu, kemajuan dan kemakmuran.
Abad pertengahan ternyata menjadi rahmat bagi Islam dan perabadan dunia, kecuali di Eropa karena mereka mengalami masa sulit. Berkat sumbangan dari Islam dan para ilmuannya Eropa bisa keluar dari masa-masa sulit. Para ilmuan dan politisi Barat pada beberapa tahun terakhir ini mulai mengakui jasa-jasa Islam dan mengganggap Barat berhutang pada Islam. Banyak buku-buku karya pemikir Islam yang menjadi refensi dan di terjemahkan oleh Barat untuk mempermudahkan mereka mempelajarinya. Kita sebagai umat Islam harus merasa bangga dan menjadikan semangat untuk menjalankan kehidupan agar terus bisa belajar dan bangga pada Islam.
Daftar Pustaka : Yahya Obaid, Moh. Kontribusi Islam Terhadap Kebangkitan Barat. Kendari. (***)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *