Kenyataan Pahit Dibalik Pedagang Pasar

17 Juni 2019 / 18:09 WIB Dibaca sebanyak: 168 kali Tulis komentar

Mungkin dipikiran dan dibenak kalian pertama kali mendengar kata pasar adalah tempat yang bau, kusam, dan menjijikan. Kenyataannya Pasar adalah tempat perbelanjaan, tempat bernegosiasi dan tempat mencari nafkah. Namun, apakah pernah terlintas dipikiran kalian untuk membayangkan seperti apa dibalik pedagang yang mencari nafkah di tempat yang identik dengan “tempat kumuh?”

Sumber : Katarina Ariesta

Sehari libur kuliah kali ini, kusempatkan diri pergi ke salah satu pasar yang ada di Depok yang letaknya berada di Jalan Nusantara Raya. Pasar Depok Jaya merupakan salah satu pasar induk yang terletak di kawasan Depok 1. Pasar ini termasuk golongan pasar yang asri dilihat dibandingkan pasar-pasar lainnya yang di Depok walaupun tetap dipandang kumuh oleh banyak orang.

Kanan dan kiri ku lihat, banyak pedagang yang tidak dikunjungi oleh pembeli. Para pedagang saling adu mulut dengan cara berteriak menghabiskan suara mereka untuk menarik hati pelanggan setiap melewatinya.

Mendengar setiap pembeli yang ingin membeli sayur, cabai, bawang, daging dan telur, antar pedagang dan pembeli saling bernegosiasi untuk bisa menurunkan harga pasar yang saat ini sedang mengalami kenaikan harga pasar.

Sebelum lebaran, harga-harga kebutuhan pokok dipastikan oleh Menteri Perdagangan bahwa harga sembako, bumbu dapur, daging dan sayuran tidak akan mengalami pelonjakan harga. Menteri Perdagangan sudah memastikan tidak ada kecurangan dari pedagang dalam menjual barang-barang kebutuhan pokok dengan ketidaksesuaian harga pasar.

Mulai dari H-7 hingga hari H Idul Fitri, harga sembako dipasar tetap stabil. Tidak seperti tahun sebelumnya yang selalu mengalami kenaikan harga drastis hingga 5% sampai 50%.

Akibat dari pascalebaran , suasana Pasar Depok Jaya sangat sepi sekali. Pembeli terlihat hanya beberapa orang yang berbelanja di pasar dan beberapa kios masih ada yang tutup. Suasana sepi ini, diakibatkan karena ada faktor utamanya, yaitu kenaikan harga pasar. Kenaikan harga ini masih dikategorikan aman. Tidak terlalu parah dengan tahun sebelumnya.

Pasar Depok Jaya pada sebelum dan sesudah lebaran mengalami kenaikan hingga 5%. Mulai dari cabai harganya mencapai 30% per kilogram. Kenaikan harga ini mengalami puncaknya mulai dari H-2 Idul Fitri. Harga tomat, bawang, bumbu dapur lainnya masih tetap stabil. Untuk sayur, tetap stabil terkecuali sayur kacang panjang saja yang mengalami kenaikan harga mencapai 5% per ikat. Harga daging pun juga ikut melonjak hingga mencapai 15% per kilogram.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun 2018 selama Lebaran mengalami kenaikan sangat parah mulai dari 10% hingga 80%. Harga pasar yang mengalami kenaikan seperti cabai, bawang dan daging. Sayur tidak mempengaruhi kenaikan harga selama Lebaran.

Pembeli pun mengalami kegelisahan setiap belanja kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Setiap tahunnya, sebelum ataupun sesudah Lebaran harga pasar selalu naik ,tidak pernah turun maupun stabil.

Biasanya pedagang menjual harga bisa ditawarkan oleh pembeli, kini tidak bisa ditawar. “Sayur yang mengalami kenaikan hanya kacang panjang saja. Kenaikan harganya mencapai 2% per ikat dibandingkan harga sebelumnya. Untuk cabai naik mencapai 30%. Sehari biasa saya jual 10 gram itu bisa 20% dari harga pasar selama bulan puasa kemarin. Seusai lebaran pun juga harga lebih tinggi lagi. Tomat stabil, hanya sempat naik sementara. Saya harus putar otak juga agar tidak menjadi mahal dan harus ada modal juga untuk jualan esok harinya.” ujar Ibu Warsinih.

Harga daging sapi maupun ayam pun juga ikut mengalami kenaikan harga. “Dari sebelum lebaran harga daging ayam dan daging sapi memang sudah mengalami kenaikan harga hingga 2% dari harga pasar sebelumnya per kilogram. Mulai senin harga daging sudah mulai normal kembali keharga pasar biasanya” ujar Hernand.

Banyak pedagang yang mengeluh akibat kenaikan harga dibulan Ramadhan ini. Mereka harus memutar otak bagaimana harus mengambil untung jika pembeli bernegosiasi. Langkah kutelusuri, melihat setiap kios-kios yang terdapat di pasar tersebut sayur-sayuran yang mereka jual sudah layu. Akupun melihatnya miris sekali. Dipandang juga sudah tidak segar lagi. Pelanggan yang membeli juga harus memperhatikan kualitas barangnya, jika tidak maka pelanggan akan terlihat ‘segan’ untuk membelinya.

Sangat prihatin dengan situasi seperti ini. Pedagang pun tidak mendapatkan keuntungan yang setimpa dengan modal yang mereka keluarkan. Pembeli yang berbelanja minatnya sangatlah sedikit. Hal inilah yang harus dipertimbangkan agar pedagang pasar harus tetap mengalami keuntungan yang stabil agar ada pemasukan untuk modal. Tetapi, kebanyakan ibu rumah tangga tetap berbelanja di pasar untuk kebutuhan sehari-hari.

“Untuk keperluan makan keluarga ya tidak apa-apa, walaupun harga mahal yang terpenting sehari bisa makan itu saja sudah bersyukur saya daripada sehari tidak sama sekali. Harga di pasar ini naiknya tidak parah sampai 10% ini dibandingkan tahun kemarin”, ujar Santi, salah satu pembeli pasar.

Hal seperti itulah yang tidak pernah kita tahu kebenarannya seperti apa. Dibalik pedagang sayur banyak yang mengira untung yang diambil dari menjual sayur 80%, tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya saat Lebaran seperti ini. Mereka bekerja juga untuk kehidupan sehari-hari. Memang ini cobaan untuk mereka sebagai para pedagang. Tidak semuanya mengalami keuntungan setiap harinya, tetapi ada kalanya mereka juga mengalami kerugian juga. Rezeki sudah diatur. Kita sebagai manusia hanya menjalankannya yang ada. Nikmati saja syukur yang kita terima, kelak nanti Tuhan memberikan jalannya. (KA)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *