Kegagalan Meraih Mimpi Tak Menghentikan Diriku

19 Mei 2019 / 19:32 WIB Dibaca sebanyak: 147 kali Tulis komentar

Foto by: Bunga Safitri

Hampir 4 tahun menjelang Hari Peringatan Kemerdekaan Repulik Indonesia tanggal 17 Agustus 2019 nanti, hati ini kembali bersedih akan ingatan yang terus terputar tentang mimpiku yang gagal diraih kala itu.

Sejak kecil, aku bermimpi menjadi seorang yang bisa mengibarkan Bendera Merah Putih di Istana Negara, atau biasa disebut PAKIBRAKA. Hingga tiba tahun dimana aku bisa meraih mimpiku pada 2015. Pada tahun itu sejak bulan Januari aku dan teman-teman seperjuangan berlatih fisik lebih keras, lari, push-up, back-up, shuttle run, dll. Berlomba -lomba menghasilkan jumlah terbanyak, karena kabarnya yang terbanyak jumlahnyalah yang akan terpilih untuk dikirim seleksi.

Aku sangat ingat, bahwa aku menjadi salah satu yang menghasilkan jumlah terbanyak pada latihan atau tes fisik yang dilakukan tersebut. Sebuah keyakinan akan terpilihnya diriku pun muncul dan semakin kuat setiap setelah pengumuman aku salah satu peraih jumlah terbanyak.

Hingga hari pengumuman akhir tiba, aku tersentak tak percaya bahwa namaku tidak ada pada pengumuman yang terpilih untuk dikirim seleksi. Rasanya aku ingin meluapkan emosi, amarah, kecewa saat itu juga. Tak percaya akan hasil yang diberikan.

Bagaimana bisa aku tak terpilih?  Padahal hampir setiap latihan atau tes fisik yang dilakukan akulah peraih jumlah terbanyak. Mengapa aku tak terpilih? Sedangkan orang-orang yang dipilih jumlah nya jauh dibawahku.

Aku kembali ke ruang kelas dengan rasa hati tak karuan, ditambah dengan pertanyaan sahabatku Iki dan Deva “gimana hasilnya? Kamu kepilih kan?”. “Engga” jawabku sambil menahan tangis. “Loh kok bisa padahal kita lihat kamu yang paling semangat dan pantes tau” tambah keduanya.

Akupun pulang ke rumah dengan perasaan yang emakin tak bisa ku tahan lagi, mamah bertanya “gimana hasilnya?”. “Aku ga dipilih mah” dengan mata yang sudah berair. “Kok bisa ya? Yaudah gapapa yang penting kamu udah berusaha, ga usah kecewa.” kata mamahku menanggapi jawabanku.

Semenjak pengumuman itu hatiku hancur, rasanya aku kehilangan mimpi terbesarku, kepercayaan diri, rasa cinta yang sejak kecil tertanam, semua berubah menjadi kecewa, dan putus asa.

Butuh waktu lama untuk bisa mengembalikan semngatku, mengobati luka karena kecewa, dan mengembalikan rasa cinta pada PASKIBRA yang hilang kala itu. Sampai aku tersadar bahwa jika aku berhenti, justru aku akan mendapati kegagalan sesungguhnya karena tidak ingin mendidik juniorku sebagai penerusku, dan bahkan peraih mimpiku secara tidak langsung.

Sejak saat itu aku kembali menjalani rutinitas di PASKIBRA dengan semangat yang lebih dari sebelumnya,  dengan janji dan harapan baru “aku harus bisa mengirimkan juniorku menjadi PASKIBRAKA minimal di kota.” ucapku untuk menambah semangat.

Hari berganti hari, hingga tiba saatnya seleksi PASKIBRAKA 2016,baku bersemangat mengantar 4 juniorku ke tempat seleksi, beberapa tahap seleksi dilalui, sampai akhirnya hanya 2 dari 4 juniorku yang terpilih.

Rafly dan Jenny, mereka berdualah yang terpilih, aku masih tak percaya bahwa diriku bisa mendidik junior sampai bisa mengirimkannya ke tingkat kota. Memberikan semangat dan dukungan kepada keduanya selama pelatihan.

Hingga 17 Agustus 2016 di Cilenggang, Kota Tangerang Selatan. Aku melihat keduanya mengenakan pakaian kebanggaan PASKIBRAKA serba putih, melihat mereka berdua aku merasa berada dalam diri keduanya, seakan akulah yang menjadi seorang PASKIBRAKA. Rafly dan Jenny masih belum sadar saat aku berada disitu sampai saat aku memanggil keduanya beberapa kali dan keduanya melihatku, sambil menyebut namaku dan memberikan senyuman membuatku semakin merasa senang dan bangga kepada keduanya dan kepada diriku tentunya.

Begitu terkesan egois memang, tapi itulah yang kurasakan sampai saat ini, hampir 4 tahun sejak 2015, dengan posisiku saat ini sudah menjadi pelatih PASKIBRA di salah satu SMP negeri di Tangerang Selatan. Kejadian 4 tahun lalu membuatku sadar bahwa setiap kegagalan dalam hidup adalah awal dari kesuksesan yang bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Terus berusaha dan berdoa karena aku percaya “usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.” (Nur Ma’rufah Saniati)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *