oleh

Jelang Sidang Gus Nur, Novel Bamukmin Minta Hakim Hadirkan Terdakwa

JAKARTA | BBCOM | Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan bakal menggelar sidang lanjutan perkara ujaran kebencian dengan terdakwa Sugi Nur Raharja alias Gus Nur , Selasa (16/2).

Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Merospons sidang tersebut, kuasa hukum Gus Nur, Novel Bamukmin meminta hakim menghadirkan terdakwa secara langsung di persidangan. Jika tidak, kata Novel, pihaknya akan keluar dari persidangan.

“Selasa ini kami akan WO ( walk out ) lagi kalau Gus Nur tidak dihadirkan,” ungkap Novel kepada JPNN.com , Minggu (14/2).

Lebih lanjut, Novel mengaku pada sidang pekan lalu, tim kuasa hukum sudah keluar dari persidangan.

Pasalnya, sejak awal persidangan digelar, Gus Nur hanya memberikan keterangan melalui zoom.

“Kami kemarin (pekan lalu) pada saat sidang hari selasa kami tim penasehat hukum sudah keluar karena hakim gagal menghadirkan Gus Nur,” pungkas Novel.

Pada sidang pekan lalu (9/2), hakim Toto Ridarto lapor sidang lantaran dua saksi yang memberikan keterangan absen alias tak hadir.

Dua perwujudan tersebut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj.

Sebagai informasi, JPU telah mendakwa Gus Nur sengaja membunuh kelompok informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Wawancara Gus Nur di Akun Youtube Munjiat Channel.

BACA JUGA  Hakim Menangis Menjatuhkan Vonis Kepada Sang Nenek Pencuri Singkong Karena Lapar

“Dengan sengaja dan tanpa hak informasi yang bertujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA),” kata Jaksa Didi AR dalam sidang Selasa (19/1).

Jaksa Didi pun mengurai pernyataan Gus Nur yang dapat melanggar hukum dalam rekaman video yang diukur.

Pertama, pada menit 03.45, Gus Nur berbincang dengan Refli Harun tentang organisasi NU.

Dalam video itu, Gus Nur menyebut NU seperti bus umum yang diisi oleh sopir pemabuk, kondektur teler, dan kernet ugal-ugalan. Kata Gus Nur, seakan-akan organisasi NU saat ini tidak lagi ada kesucian.

Jaksa Didi mengatakan dalam dakwaannya, bus umum yang disebut Gus Nur adalah organisasi NU.

Selanjutnya, mabuk yang dimaksud adalah Ketua Umum NU KH Aqil Sirodj dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

“Bahwa maksud terdakwa seperti bus umum adalah ormas NU. Sopir mabik adalah ketua umum KH Aqil Sirodj dan KH Ma’ruf Amin yang mengeluarkan pernyataan selalu menimbulkan kontroversi di tengah-tengah umat, sehingga umat Islam pada umumnya bahkan warga Nahdliyin sendiri terpecah belah,” sambungnya.

BACA JUGA  Polri Ciduk 23 PSK dan 3 Muncikari Prostitusi Serpong

Kemudian, Jaksa Didi juga menarik perkataan Gus Nur yang ada dalam video terkait NU yang telah berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Jaksa Didi menyatakan, suara dalam video tersebut adalah suara Gus Nur.

Hal itu terbukti melalui pemeriksaan forensik digital yang telah dilakukan oleh penyidik ​​kepolisian.

“Maka suara barang bukti adalah identik dengan suara pembanding nama Sugi Nur Raharja,” ujar Didi.

Atas hal tersebut, JPU mendakwa Gus Nur dengan pasal 45A ayat (2) jo pasal 28 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Atau, Pasal 45 ayat (3) jo, pasal 27 ayat (3) Undang-undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan Undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.  (cr3 /jpnn.com/bb )

Komentar