Hiruk Pikuk Pasar Tradisional

19 Juni 2019 / 21:45 WIB Dibaca sebanyak: 123 kali Tulis komentar

Kedinginan malam menghiasi aktifitas, kepekaan indra mengiringi perjalananku menuju pasar. sebuah pasar tradisional yang diapit oleh pasar modern, itulah Pasar Baru Bekasi.

Pasar Baru Bekasi adalah salah satu pasar yang sudah tak asing lagi didengar di telinga warga Bekasi, disinilah para pedagang bekerja keras untuk menghidupi anak dan keluarganya di rumah, tanpa kenal lelah dan waktu para pedagang ini terus berjalan.

Sebuah pasar selalu identik dengan bau, ketidak nyamanan,dan kemacetan. Mungkin inilah penyebab dari sebagian orang memilih untuk berbelanja di pasar modern. Tapi banyak yang tetap meilih untuk berbelanja di pasar tradisional karna adanya tawar-menawar dan murahnya harga menjadi yang utama.

Setiap hari pasar ini tak pernah sepi pengunjung, dari pedagang hingga pembeli selalu bertambah, sama seperti pasar-pasar lainya Pasar Baru Bekasi menyediakan sayur-mayur, ikan, ayam, kue, buah-buahan dan kebutuhan rumah tangga. pasar ini cukup lengkap, dari sandang, pangan, papan.

Keindahan Pasar Baru Bekasi memang begitu indah, bukan karena tempat yang baik seperti pasar modern, melainkan senyum para pedagang yang menghiasi pipi, dengan iklas para pedagang menawarkan daganganya agar bisa dibeli para pengunjung.

Di bagian luar pasar, anda akan bertemu penjual ikan, para pedagang ikan ini menjual macam-macam ikan seperti ikan mas,lele gurame,kakap, patin, cumi, kepiting dan udang, berjejer di bahu jalan.

Mungkin berbeda dengan pasar-pasar yang lainya, tak hanya pedagang ikan yang ada di Pasar Baru Bekasi, namun juga banyak sekali tukang kue cucur menghiasi bahu kiri dan kanan jalan, sama seperti pedagang ikan, pedagang kue cucur ini juga menghiasi pinggir jalan.

Aku sempat berbincang kepada salah satu pedagagang kue cucur yang bernama Mba Lastri, ia menjelaskan tentang bagaimana cara membuat kue cucur, dan persaingan pedagang. Memang rejeki takkan kemana, karena rejeki tak ada yang tertukar seperti sinetron putri yang ditukar. 

Setelah sekian lama aku berbincang dengan Mba Lastri aku terkejut, merasa ada yang janggal, ternyata masih ada premanisme yang berkeliaran di setiap harinya, dan menjadi kewajiban para pedagang untuk memenuhi apa yang dimintanya.

Setiap pedagang harus membayar dua puluh persen dari jumlah penghasilannya. Padahal penghasilan mba lastri tidaklah banyak sehari sehari hanya  mendapatkan keuntungan yang minim. Itupun masih kurang, karena harus memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Mba lastri ternyata memiliki dua orang anak, satu perempuan dan satu lelaki. Jarak usia putri sulung dan anak bungsunya hanya 2 tahun.  

Ada berbagai sebab premanisme di Pasar Baru Bekasi, makin lama makin sukar diberantas karena ekonomi yang semakin memburuk dan kolusi antar preman dan petugas keamanan setempat dengan mekanisme berbagai setoran. Jadi adanya kerja sama antara preman dan petugas memberatkan para pedagang kaki lima.

Seharusnya ini menjadi tanggung jawab semua pihak, jujurlah dalam mencari uang, jangan ada yang diberatkan, jangan ada timpang tindih untuk kenikmatan seorang saja tanpa memikirkan orang lain.

Mungkin ini menjadi pesan untuk Presiden Bpk.Jokowi yang dikenal blusukanya ke pasar-pasar.  Agar memperhatikan lagi lebih dalam apa yang terjadi di dalam pasar. Di dalam pesan ini aku menuturkan bahwa masih ada premanisme yang berkeliaran di pasar-pasar tradisional, mungkin karna permainan yang rapih, dan keterlibatan para oknum yang membuat para preman ini tetap aman-aman saja. (Fransiska Nathasia/mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta).

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *