Hikmah Sabar dan Syukur Petugas Kebersihan

20 Juni 2019 / 22:39 WIB Dibaca sebanyak: 240 kali 1 Komentar

Terlintas dibenak ketika mendengar julukan ‘tukang sapu’ yang terpikirkan secara spontan adalah lelah, panas, bau, kotor, dan memalukan. Rasa nyaman dan enak bahkan jauh dari bayangan. Namun apakah kalian mengetahui dibalik kenyamanan serta kebersihan nan minim sekali ada sosok hebat yang berusaha menahan perihnya demi keluarga?.

Ketika di perjalanan menuju kampus tepatnya di sekitar lingkungan UI yang tak jauh dari halte bus tempat para mahasiswa menunggu bus dan turun untuk berjalan melewati krangkeng UI atau biasa dikenal dengan lapangan UI.

Langkahku terhenti ketika melihat seorang bapak memakai baju khusus sambil memegang peralatan seperti, sapu, dan serok untuk mengumpulkan sampah ditambah  gerobak yang siap mengangkut tumpukan sampah kotor dari berbagai jenis.

Pernahkah kalian membayangkan bila di lingkungan kita tak ada petugas kebersihan baik di sekolah, kampus, jalanan, kantor, dan lainnya. Apakah kita akan merasa bersih dan nyaman? Mungkin selama ini kita hanya berpikir pekerjaan tersebut tidak layak karena harus berani kotor serta menahan rasa malu dalam diri, terutama bila posisi sosok itu adalah orang tua kita sendiri.

Jamhuri pria kelahiran 1972 sudah bekerja di kampus sejak tahun 2002 merupakan seorang tukang sapu atau petugas kebersihan yang setiap hari menyapu dedaunan dan sampah berserakan lainnya di pinggir jalan. Latar belakang Pendidikan yang ia miliki bukanlah masalah baginya, begitupun dengan pekerjaan sebagai petugas kebersihan tak menyulutkan semangat yang ia miliki demi menjaga kenyamanan dan kebersihan lingkungan.

Setiap pukul 05.30 pagi ia sudah berada di kampus untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai petugas dan juga kepala rumah tangga dalam mencari nafkah untuk anak dan istri. Saat pertama kali bekerja sebagai petugas kebersihan ia merasa malu terhadap diri sendiri, ia juga ingin bekerja di tempat lain yang mungkin layak dan nyaman, tapi ia menahan egonya untuk tetap mensyukuri pekerjaan tersebut.

Menurut Jamhuri, ia memilih  pekerjaan dibidang kebersihan karena ia yakin kebersihan sebagian dari iman dan itulah tekanan yang dirasakan Jamhari sehingga bertahan di posisi tersebut. Karena prinsip dalam hidup harus memilih,”antara dunia dan akhirat karena ketika ilmu dunia itu pasti akan mati, sedangkan pilihan hidup kita menuju akhirat,” ujar pria sebagai petugas kebersihan. Begitu mulia dan tenang pemaparan yang disampaikan hingga membuatku kagum akan profesi dan kesabaran beliau.

Jamhuri juga belajar dari hidup susah. Menurut ia kesusahan itu ternyata menambah nikmat lebih banyak dampaknya dibanding kesenangan, itulah pribadi Jamhuri. Oleh karena itu, inilah alasannya mengapa ia bekerja sebagai petugas kebersihan. Dari pekerjaan ini ia rela menyapu daun yang tadinya sudah bersih di jalan karena disapu kemudian daun itu berguguran kembali dan dengan sabarnya ia membersihkan lagi, di sinilah titik kesabaran dari ujian yang ia alami, perkataan orang lain yang mencemooh pekerjaannya tak ia hiraukan  karena ia hanya mengharapkan agar selalu bersyukur dan dapat memetik hikmah.

Menurut jamhuri cakupan wilayah kampus cukup luas sehingga tak sepadan terlebih lagi gaji yang jauh dari kata cukup, tapi ia menerimanya dengan nikmat dan hati yang nyaman itulah membuat ia merasa bersyukur akan hikmahnya. Keluhan dari pandangan orang tidak menjadi tolak ukur. Memang profesi tersebut harus sabar, berani kotor dan melawan rasa jijik terhadap kotornya sampah di lingkungan kita dan dari pengalaman itu banyak orang tak ingin mengalami  demikian.

Hal menarik yang seperti itulah tak pernah terpikirkan oleh kita semua. Dibalik badan kuat seorang petugas kebersihan terdapat jiwa besar untuk menolong yang tak bisa dimiliki semua orang.

Ketetapan takdir pekerjaan tukang sapu atau petugas kebersihan di area kampus tak pernah direncanakan oleh Jamhuri sebelumnyaPekerjaan ini sudah ditetapkan oleh Allah, namun cobaan dan pilihan untuk menjalani bidang tersebut harus diiringi oleh hati nurani yang ikhlas. (Oleh Maulidia/Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *