Eksistensi ‘Banseng’ Yang Tetap Terjaga

23 Juni 2019 / 13:39 WIB Dibaca sebanyak: 247 kali 1 Komentar

Foto oleh : Syaharani Putri Allya

Kawasan Glodok tepatnya di Pancoran, merupakan daerah Pecinan tertua di Jakarta, juga pusat bisnis masyarakat Tionghoa. Dapat dilihat di sepanjang jalannya terdapat toko elektronik, toko buku, toko kelontong, dan lainnya.

Glodok juga seringkali disebut sebagai tempat pusat obat Cina, banyak berjajar toko obat Cina di sepanjang jalan pancoran. Salah satunya toko obat Banseng, jelas tertulis di papan coklat tua tepat di depan tokonya.

Toko obat Banseng adalah toko obat Tiongkok yang berdiri dari tahun 1933, tepat 12 tahun sebelum kemerdakaan negara Indonesia. Wikanto Yusuf, pria berkelahiran tahun 1930 ini adalah generasi ketiga pengelola toko obat Banseng. “Pada tahun 1930,Kakek saya meninggalkan Tiongkok dan pergi ke Indonesia membangun toko obat ini dengan bermodalkan simpanannya saat itu,” jelasnya.

Didalam tokonya dapat dijumpai keramik Tiongkok dan perabotan yang diwariskan oleh leluruhnya. Banyak jenis obat Tiongkok yang tersusun di dalam lemari obat, Obat yang dijual pun merupakan obat asli Tiongkok yang diwarisi turun – temurun.

Toko obat tersebut terdiri dari 3 tingkat, lantai pertama diperuntukkan untuk menjual obat dan juga dibuka praktek Sinshe. Lantai ke-2 dan ke-3 merupakan tempat mengolah obat mentah yang diimpor dari Tiongkok.

Toko ini buka dari pukul 8 pagi sampai 6 sore, sedangkan praktek Sinshe dari pukul 9 pagi sampai 2 sore. Pelanggannya ada yang berdatangan dari Jakarta hingga luar Jakarta. Wikanto menjelaskan juga ada beberapa pelanggan Toko Obat Tiongkok Banseng yang asalnya dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapur hingga Australia. “Saya gak bisa kalo nggak beli obat disini, kaya ga cocok aja,” jelas Yani, pelanggan setia asal Bekasi.

Wikanto sudah tidak mengambil peran meracik obat, tetapi anaknya, Orin. Pria berkelahiran tahun 1960 itu masih dengan telaten meracik obat dari resep yang diberikan pelanggannya sedari klinik Sinshe. Resep bertuliskan bahasa Cina tradisional tersebut dibacanya, dan juga ditimbang dengan timbangan yang berebntuk seperti sumpit. Toko obat Tiongkok Banseng selalu mempertahankan resep dari leluhurnya dan ciri khasnya. Buktinya, cara menghitung total biaya obat pun masih menggunakan cara yang tradisional, yaitu Sempoa.

Wikanto menuturkan bahwa bisnis yang dirintis kakeknya berjalan lancar. Wikanto juga menambahkan bahwa ia senang mempelajari ilmu pengobarat Tiongkok dan juga rajin membaca buku pengobatan Tiongkok. Walaupun Wikanto sudah tidak meracik obat, ia tetap turut andil menghitung biaya obat. Dia menganggap ini merupakan tanggung jawab terhadap bisnis leluhur dan bentuk kecintaannya terhadap ilmu pengobatan Tiongkok. (Syaharani Putri Allya/PNJ)

 

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *