OKI | BBCOM — Kawasan seluas 14 hektare di Kebun Plasma Nutfah Sepucuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, tercatat bebas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama dua dekade. Keberhasilan restorasi gambut di kawasan yang sebelumnya berulang kali terbakar itu pun dinilai berpotensi menjadi rujukan nasional.
Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Satyawan Pudyatmoko, menilai pemulihan di Sepucuk sebagai contoh langka keberhasilan restorasi ekosistem gambut. Kawasan yang pernah terbakar pada 1997–1998 dan 2006 itu kini ditumbuhi 30 spesies pohon.
” Ini adalah salah satu contoh yang langka bagaimana pemulihan terhadap ekosistem gambut dilakukan. Awalnya lokasi ini mengalami kebakaran berulang. Sekarang sudah ada 30 spesies pohon yang hidup di sini,” kata Satyawan saat mengunjungi kawasan tersebut bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati OKI Muchendi Mahzareki, belum lama ini.
Menurut Satyawan, praktik restorasi di Sepucuk akan direplikasi di sejumlah daerah. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah keterlibatan masyarakat desa agar pengelolaan gambut dan mangrove tidak hanya bertumpu pada pemerintah.
“Kita perlu berdiskusi lebih lanjut dengan Pak Bupati dan Pak Gubernur bagaimana meningkatkan peran desa untuk pengelolaan gambut dan mangrove yang berkelanjutan,” ujarnya.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru berharap kunjungan tersebut menjadi landasan merumuskan langkah konkret perlindungan ekosistem gambut. Sumatera Selatan memiliki sekitar 10 persen dari total lahan gambut di Indonesia.
Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, OKI memiliki kawasan gambut terluas di Sumatera Selatan dengan perkiraan luas mencapai 800.000 hektare. Restorasi di Kebun Plasma Nutfah Sepucuk dimulai sejak 2010 pada kawasan seluas 20 hektare.
Meski demikian, Muchendi menekankan perlunya dukungan BPGMN dan Gubernur untuk pengelolaan gambut menyeluruh, terutama melalui pengaturan tata air dan pembangunan sekat kanal. Langkah itu penting untuk mencegah gambut mengering sekaligus menekan risiko karhutla.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, termasuk melalui pengaturan sekat kanal dan tata airnya, kawasan gambut bisa menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan,” kata Muchendi. (pani)















