DPRD Jabar Pastikan TPPAS Nambo Akan Beroperasi 2020

13 Mei 2019 / 06:43 WIB Dibaca sebanyak: 1552 kali 1 Komentar

BANDUNG, BBCom–Untuk mengetahui sejauh mana progres pembangunan Tempat Pemerosesan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo, DPRD Jabar melalui Komisi IV meninjau langsung ke lokasi proyek TPPAS Nambo yang terletak di Desa Lulut dan Nambo, Kabupaten Bogor.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jabar H.Daddy Rohanady mengatakan, berdasarkan hasil kunjungan Komisi IV ke TPPAS Nambo yang terletak di Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu, bahwa pembangunan TPPAS sedang berlangsung. Dan dijadwalkan baru TPPAS baru dapat beroperasional penuh pada bulan Juni 2020.

“Pada bulan April tahun depan (2020-red) akan dilakukan uji coba. Selama masa tersebut, pihak pengelola akan menggratiskan. Artinya, tidak dikenakan biaya (tipping fee),” ujar Daddy yang juga Sekretaris Fraksi P Gerindara DPRD Jabar Minggu, (12/5-2019).

Dikatakan, pembangunan dan pengoperasionalan TPPAS Nambo dikerjasamakan dengan perusahaan Korea selama 25 tahun. Hasil akhir dari pengolahan sampah tersebut berupa RDF (refused derived fuel). RDF yang dihasilkan sudah dikontrak akan dibeli oleh pabrik semen yang letaknya tidak jauh dari lokasi TPPAS.

TPPAS yang luasnya 55 hektare tersebut terletak di Desa Lulut dan Nambo. Sehingga, tidak aneh kalau kemudian ada yang menyebutnya TPPAS LUNA (maksudnya LUlut-NAmbo). Adapun kapasitasnya diharapkan dapat mengolah dan memproses sampah 1.600 ton per hari.

Dengan kapasitas tersebut TPPAS LUNA diharapkan dapat melayani sampah dari tiga wilayah di Jawa Barat, yakni Kota Depok, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor. Selain itu, pelayanan diharapkan pula dapat diberikan untuk Tangerang.

TPPAS LUNA belum menerapkan teknologi tinggi mengingat banyak hal. Misalnya, hal itu dipengaruhi input, output, dan tipping fee. Teknologi yang digunakan dapat dikategorikan paling rendah.

Hal itu berbeda jauh dengan teknologi yang diterapkan di beberapa negara, baik di Eropa maupin di Asia. Korea Selatan, misalnya, sudah menerapkan teknologi tinggi. Tipping fee di Negeri Ginseng tersebut sekitar sejuta rupiah per ton. Bandingkin dengan tipping few sampah yang masuk ke TPPAS LUNA yang di dalam kontraknya hanya menvantumkan Rp 125.000.

Terlepas dari itu semua, TPPAS LUNA diharapkan menjadi contoh pengolahan sampah ideal di Jawa Barat.

“Semoga TPPAS LUNA benar-benar bisa menjadi proyek percontohan pengolahan dan pemrosesan akhir sampah di Jawa Barat. Kita tunggu tanggal mainnya,” pungkas wakil rakyat dari daerah pemilihan Kabupaten/Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu itu. (rls/red)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *