Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

18 Mei 2019 / 20:10 WIB Dibaca sebanyak: 542 kali Tulis komentar

Kamu adalah sosok inspiratif untuk banyak oran. Bakat bermusik dan kepintaranmu dalam hal akademik ditambah dengan paras yang cantik serta kerendahan hati yang kamu miliki, menjadikan kamu sebagai salah satu perempuan incaran bagi para pria.

Dipenghujung tahun 2012, setamatnya kamu menempuh ilmu di Sekolah Menengah Atas. Kamu kembali melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, dengan segala keterbatasan biaya kamu terus berusaha dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan adalah maha adil dan maha segala-galanya. Bermodalkan kecerdasan, kamu mengikuti berbagai tes untuk mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri yang sudah kamu impikan sebelumnya.

Kamu selalu percaya dan yakin bahwa kamu bisa menghadapi segala sesuatu dengan usaha dan berdoa. Seperti yang selalu kamu bilang “ aku yakin aku pasti bisa, karena dibalik kesulitan tentu ada kemudahan.” Ucapmu.

Waktu terus bergulir sebagaimana mestinya, kamu tidak pernah mengeluh dan terus bekerja keras. Hingga pada akhirnya usaha dan doa kamu terjawab, tepat ditanggal 16 Februari 2013 kamu mendapatkan beasiswa 100% di Universitas Jendral Soedirman. Senang bukan kepalang bak mendapat durian runtuh, kamu mensyukuri akan hal tersebut.

Hari dimana perkuliahan pertama dimulai, sejak saat itu lah mimpi buruk menghampiri kehidupan kamu. Padatnya jadwal perkuliahan, tuntutan sebagai seorang mahasiswa berlabel beasiswa, ditambah kamu merupakan salah satu mahasiswa yang aktif dalam organisasi di kampus. Kamu mulai menyadari bahwa tubuhmu sudah tidak lagi berdaya untuk melakukan banyak aktivitas, belum lagi beban pikiran yang menumpuk seakan kepala ingin pecah.

Pekan demi pekan kamu melewati dengan begitu beratnya, rasa sakit dibagian belakang kepala mulai terasa hampir setiap saat. Kamu berpikir bahwa rasa sakit itu hanya sebuah dampak dari aktivitas dan pikiran yang terlalu padat. Sampai puncaknya, pada saat rapat bersama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kamu terlihat sangat pucat dan selalu memegangi kepala bagian belakangmu. Tak lama, terlihat darah keluar dari hidungmu saat itu pula kamu tergeletak tak sadarkan diri.

Setelah itu, kamu segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan. Dokter mengambil tindakan cepat dengan melakukan pemeriksaan setelah diceritakan kronologinya oleh temanmu. Dengan kondisi yang masih sangat lemah, kamu tersadar setelah hampir 7 jam terbaring tak sadarkan diri. Dokter menjelaskan bahwa perlu ada tindakan serius terhadap kondisimu.

Ketakutan dan kecemasan menghampirimu, rekan-rekan, dan keluargamu. Kamu menjalani serangkaian tes medis untuk mengetahui penyakit apa yang ada didalam tubuhmu.

Benar saja, rasa sakit dibagian belakang yang sudah sejak lama kamu rasakan kini menjadi mala petaka untukmu. Ya, tumor otak bersarang didalam kepalamu, sontak kamu kaget begitu mendengarkan perkataan dokter bahwa kamu telah divonis mengidap tumor otak stadium 2.

Pupus sudah segala harapan yang hendak kamu impi-impikan sejak dulu, hancur segala ambisi serta keinginanmu untuk dapat menjadi mahasiswa berprestasi agar bisa membanggakan kedua orang tuamu. Kini hanya keputus asaan lah yang membayang- banyangi pikirinmu.

Dengan berat hati, kamu harus berhenti kuliah dan memutus beasiswa yang sudah kamu dapatkan dengan jerih payahmu. Sangat amat disesalkan, namun kesembuhanmu adalah hal yang utama untuk dirimu. Kamu harus menjalani perawatan medis untuk menyembuhkan dan menghilangkan tumor yang ada didalam kepalamu. Namun, keyakinanmu tetaplah kuat, kamu selalu percaya bahwa Tuhan adalah maha adil dan maha segala-galanya. Dengan segala cobaan yang kamu hadapi, kamu tetap merasa bersyukur dan percaya akan kekuatan doa. Dan juga ucapan yang selalu kamu ucapkan menjadi penyemangat tersendiri untuk kesembuhanmu. “ aku yakin aku pasti bisa, karena dibalik kesulitan tentu ada kemudahan.” Ucapmu. (Denny Adhietya/PNJ)

 

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *